Bandung, HarianJabar.com – Istilah stunting sering dikaitkan dengan anak yang memiliki postur tubuh pendek. Namun, dokter anak menegaskan bahwa tidak semua anak pendek berarti mengalami stunting. Ada sejumlah faktor lain yang memengaruhi tinggi badan anak, termasuk faktor genetik.
Menurut dr. Rina, Sp.A, spesialis anak di RSUD Kota Bandung, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, atau pola asuh yang tidak tepat. Kondisi ini berbeda dengan anak yang memang secara genetik memiliki postur tubuh pendek.

“Kalau orang tua pendek, kemungkinan anaknya juga tidak terlalu tinggi. Itu bukan stunting. Jadi jangan terburu-buru melabeli anak pendek sebagai stunting tanpa pemeriksaan medis,” jelas dr. Rina.
Apa Itu Stunting?
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi sejak 1.000 hari pertama kehidupan (sejak masa kehamilan hingga anak usia dua tahun). Anak yang stunting biasanya tidak hanya pendek, tetapi juga memiliki masalah perkembangan kognitif dan imunitas yang lebih rendah.
Bedakan dengan Genetik Pendek
Anak yang pendek karena faktor keturunan biasanya tetap aktif, sehat, dan tidak memiliki hambatan perkembangan. Sementara anak stunting cenderung lebih rentan sakit dan mengalami keterlambatan perkembangan motorik maupun bicara.
Pencegahan Stunting
Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
- Memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan anak.
- Pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.
- Pola makan seimbang setelah anak mulai MPASI.
- Rutin memantau tumbuh kembang di posyandu atau fasilitas kesehatan.
Peran Orang Tua
Dokter mengingatkan agar orang tua tidak mengandalkan penilaian fisik semata. Pemeriksaan medis, grafik pertumbuhan, dan penilaian status gizi sangat penting untuk mengetahui apakah anak mengalami stunting atau tidak.
“Jangan malu membawa anak ke posyandu atau dokter. Semakin cepat diketahui, semakin baik intervensi yang bisa dilakukan,” tambah dr. Rina.
