Washington, HarianJabar.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan dukungannya kepada Israel dengan mengucurkan dana bantuan militer sebesar US$50 juta atau sekitar Rp830 miliar. Bantuan ini ditujukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara Israel dalam menghadapi ancaman rudal dari Iran.
Pentagon menyebut, dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan Iron Dome dan teknologi intersepsi lainnya yang selama ini menjadi tameng utama Israel dari serangan udara.

Dukungan Militer Berkelanjutan
Langkah AS ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Washington sudah menyalurkan miliaran dolar setiap tahun untuk mendukung kekuatan militer Israel. Namun, dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Israel dan Iran, membuat alokasi dana tambahan dianggap mendesak.
“Bantuan ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menjaga keamanan Israel, sekutu terdekat kami di kawasan,” kata juru bicara Pentagon dalam konferensi pers, Jumat (19/9/2025).
Ancaman Rudal Iran
Ketegangan antara Israel dan Iran kian meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Iran disebut terus mengembangkan teknologi misil jarak jauh yang dianggap mengancam stabilitas regional. Israel, yang kerap menjadi target ancaman, memperkuat sistem pertahanannya dengan dukungan penuh dari AS.
Analis militer menilai, bantuan baru dari AS akan mempercepat modernisasi teknologi pertahanan udara Israel agar mampu merespons serangan dalam hitungan detik.
Kritik dari Dalam Negeri
Meski demikian, langkah ini menuai kritik dari sebagian kalangan di AS. Mereka menilai dana besar tersebut seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, terutama pemulihan ekonomi dan program sosial.
“Rakyat masih berjuang dengan biaya hidup yang tinggi, sementara pemerintah terus menggelontorkan dana untuk perang orang lain,” ujar seorang anggota Kongres dari Partai Demokrat progresif.
Dampak Geopolitik
Pengamat hubungan internasional menilai, bantuan ini akan semakin memperkuat posisi Israel, namun juga berpotensi memperburuk hubungan AS dengan Iran.
“Bantuan militer semacam ini bisa dianggap provokasi oleh Teheran, dan memperbesar risiko eskalasi konflik,” kata seorang peneliti Timur Tengah.
