Sukabumi, HarianJabar.com 5 September 2025 – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Heri (38), seorang pria asal Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, yang dikabarkan meninggal dunia di Korea Selatan pada akhir Agustus lalu. Heri adalah salah satu dari ribuan pekerja migran Indonesia yang mengadu nasib di negeri orang, demi kehidupan yang lebih baik.
Namun takdir berkata lain. Setelah tiga tahun bekerja di salah satu pabrik komponen elektronik di wilayah Incheon, Heri justru pulang dalam keadaan tak bernyawa.

Kabar Duka dari Negeri Seberang
Kabar meninggalnya Heri pertama kali diterima keluarga pada 29 Agustus 2025 melalui sambungan telepon dari rekannya di Korea. Keluarga mengaku terkejut dan sempat tidak percaya.
“Katanya dia sempat sakit, lalu dibawa ke rumah sakit. Tapi nggak lama kemudian kami dengar kabar kalau dia meninggal,” ujar Ibu Heri, sambil terbata menahan tangis saat ditemui di rumah duka, Jumat (5/9).
Pihak keluarga belum mendapatkan penjelasan resmi mengenai penyebab pasti kematian Heri. Namun, dari informasi awal yang diterima, Heri diduga mengalami komplikasi akibat kelelahan kerja dan stres. Jenazahnya dijadwalkan tiba di Indonesia pekan ini.
Sosok yang Dikenal Gigih dan Pendiam
Menurut warga sekitar, Heri adalah pribadi yang sederhana, pekerja keras, dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia menjadi tulang punggung keluarga sejak sang ayah meninggal beberapa tahun silam.
“Dia orang baik, nggak banyak bicara. Waktu berangkat ke Korea juga niatnya supaya adik-adiknya bisa sekolah,” kata Deden, tetangga Heri.
Heri meninggalkan seorang istri dan satu anak laki-laki berusia 6 tahun yang selama ini ditinggal di kampung halaman.
Pekerja Migran dan Risiko di Baliknya
Kematian Heri kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi para pekerja migran Indonesia, khususnya yang bekerja di sektor informal atau industri padat karya di negara maju seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang. Tak sedikit dari mereka yang menghadapi tekanan kerja, keterbatasan akses kesehatan, hingga ketidakjelasan kontrak kerja.
Koordinator Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Euis Marlina, mengatakan banyak pekerja yang mengalami kelelahan ekstrem akibat jam kerja panjang, minimnya istirahat, dan tekanan dari perusahaan.
“Kami sering menerima laporan seperti ini. Masalahnya bukan hanya soal jam kerja, tapi juga soal perlindungan hukum yang seringkali lemah. Heri bukan yang pertama,” ujarnya.
Tantangan Repatriasi dan Biaya Pemulangan Jenazah
Keluarga Heri mengaku kesulitan dalam mengurus proses pemulangan jenazah karena keterbatasan biaya dan kurangnya informasi prosedur resmi. Mereka berharap pemerintah melalui KBRI Seoul dan BP2MI bisa membantu secara cepat dan menyeluruh.
“Kalau bisa, bantu kami supaya jenazah anak kami bisa cepat pulang dan dimakamkan di sini,” ucap ibu Heri lirih.
BP2MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak KBRI di Seoul untuk mengurus administrasi dan pemulangan jenazah. Mereka juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Heri, seraya menjanjikan bantuan logistik dan pendampingan keluarga.
Mimpi yang Tak Selesai
Heri adalah satu dari ribuan wajah di balik angka pekerja migran Indonesia. Ia bukan hanya statistik—ia adalah seorang anak, ayah, dan suami yang berjuang dari jauh demi keluarganya. Kepergiannya bukan hanya duka bagi keluarga, tapi juga pengingat tentang pentingnya sistem perlindungan bagi para pahlawan devisa yang bekerja di luar negeri.
