Jakarta, HarianJabar.com 5 September 2025 — Empat pertandingan awal tanpa kemenangan menjadi ujian awal yang tak ringan bagi pelatih baru Timnas Indonesia U-23, Gerald Vanenburg. Harapan tinggi publik terhadap pelatih asal Belanda itu mulai berubah menjadi tanda tanya besar setelah sederet hasil minor yang diraih Garuda Muda dalam beberapa laga uji coba internasional terakhir.
Sejak debutnya bulan lalu, Vanenburg mencatat dua kali imbang dan dua kekalahan dalam empat laga uji coba. Walau status pertandingan hanya ujicoba, performa pasukan muda Indonesia memunculkan kekhawatiran menjelang turnamen resmi.

Ekspektasi vs Realita
Didatangkan dengan latar belakang sebagai mantan pemain Timnas Belanda dan eks pelatih akademi klub-klub Eropa, Vanenburg dipercaya PSSI untuk memperkuat fondasi tim muda Indonesia. Namun adaptasi awalnya di Asia Tenggara tak berjalan mulus.
“Proses pembentukan tim memang tidak instan. Kami masih terus membangun chemistry dan mental bertanding,” ujar Vanenburg dalam konferensi pers usai laga melawan Thailand U-23, yang berakhir imbang 1-1.
Menurut Vanenburg, aspek komunikasi dan pemahaman taktik menjadi tantangan tersendiri. Ia juga menyebut mayoritas pemain belum terbiasa dengan pendekatan Eropa yang ia terapkan.
Evaluasi Tanpa Menyalahkan
Ketua PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa hasil dalam laga uji coba bukanlah penentu akhir. Ia meminta publik bersabar dan tetap mendukung proses jangka panjang tim nasional.
“Kita perlu membangun sistem yang kuat, bukan sekadar hasil instan. Pelatih perlu waktu untuk mengenali karakter pemain, dan pemain juga butuh waktu memahami filosofi pelatih,” ujarnya.
Sejumlah pengamat sepak bola nasional juga meminta evaluasi dilakukan secara bijak. Menurut Anwar Uji, analis sepak bola senior, kekalahan dalam uji coba bisa menjadi bekal berharga jika diproses dengan benar.
“Justru di sinilah saatnya melihat di mana letak kelemahan tim—bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk memperbaiki,” katanya.
Tantangan Regenerasi dan Adaptasi
Vanenburg menghadapi tantangan ganda: membangun tim muda dari skuad yang tersebar di berbagai klub, dengan latar belakang pelatihan dan taktik yang sangat bervariasi. Belum lagi, sebagian besar pemain baru menjalani debut di level internasional.
Beberapa pemain seperti Rafli Widianto (PSIS) dan Yogi Setiawan (Persib) mulai menunjukkan potensi, namun konsistensi dan mental bertanding masih menjadi PR besar.
“Masalah utama kita bukan teknik, tapi mental kompetisi dan konsistensi di lapangan,” ujar Vanenburg.
Jangka Panjang Lebih Penting dari Hasil Singkat
Vanenburg menegaskan dirinya tidak datang ke Indonesia untuk mencari popularitas atau kemenangan cepat. Ia ingin meninggalkan warisan: sistem pelatihan modern, pendekatan taktik progresif, dan pemain muda yang matang secara mental.
“Empat laga tanpa kemenangan bukan akhir dari segalanya. Ini awal dari proses panjang. Kami ingin membentuk tim yang tak hanya bisa menang hari ini, tapi juga siap di masa depan,” kata Vanenburg.
Empat laga tanpa kemenangan memang bukan awal ideal. Namun dalam sepak bola, terutama di level usia muda, proses seringkali lebih penting daripada hasil instan. Gerald Vanenburg kini berada di persimpangan penting: membuktikan bahwa ia bukan hanya pelatih asing biasa, tapi arsitek masa depan sepak bola Indonesia.
