Teheran, HarianJabar.com – Pemerintah Iran kembali menunjukkan sikap tegas terhadap upaya spionase asing. Seorang pria yang diduga kuat bekerja sebagai mata-mata untuk badan intelijen Israel, Mossad, dieksekusi dengan cara digantung pada Rabu (17/9/2025).

Kronologi Kasus
Menurut laporan kantor berita resmi Iran, pria tersebut ditangkap pada 2023 lalu dalam sebuah operasi rahasia yang dilakukan oleh pasukan keamanan Iran. Ia dituduh mengumpulkan informasi sensitif terkait program militer dan nuklir Iran untuk kemudian diserahkan kepada Mossad.
Pengadilan Revolusi Iran menjerat terdakwa dengan pasal spionase dan kolaborasi dengan musuh negara. Setelah melalui proses persidangan tertutup, vonis hukuman mati dijatuhkan pada awal 2025 dan kini telah dieksekusi.
Reaksi Pemerintah Iran
Kejaksaan Agung Iran menegaskan bahwa eksekusi ini adalah bentuk peringatan keras terhadap siapa pun yang mencoba bekerja sama dengan pihak asing.
“Kami tidak akan memberi ruang bagi spionase. Hukuman ini adalah pesan bahwa setiap pengkhianatan terhadap bangsa akan dibalas dengan tegas,” bunyi pernyataan resmi tersebut.
Ketegangan Iran–Israel
Eksekusi ini diperkirakan akan menambah panas hubungan Iran dan Israel yang memang sudah lama bersitegang. Israel selama ini dituding Iran melakukan operasi intelijen untuk melemahkan stabilitas keamanan, termasuk dugaan serangan siber dan sabotase fasilitas nuklir.
Di sisi lain, pemerintah Israel melalui juru bicara resminya menolak berkomentar terkait eksekusi ini. Namun, pengamat menilai kasus ini bisa memicu gelombang aksi balasan di balik layar antara dua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik tersebut.
Pesan Politik
Analis Timur Tengah menilai, selain aspek hukum, eksekusi ini juga merupakan pesan politik yang ingin ditegaskan Iran kepada dunia internasional. Iran ingin menunjukkan kedaulatan serta ketegasan dalam melindungi rahasia negara di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya.
“Ini bukan sekadar kasus hukum, tetapi sinyal bahwa Iran ingin menunjukkan kekuatan dan ketegasannya, terutama terkait isu keamanan nasional,” ujar seorang pengamat politik regional.
