Bandung, HarianJabar.com – Pola makan modern yang serba instan rupanya membawa dampak serius bagi kesehatan anak. Dokter spesialis anak mengingatkan, konsumsi makanan kemasan berlebihan serta rendahnya asupan serat bisa memicu meningkatnya risiko alergi pada anak.
Dokter Spesialis Anak RS Hasan Sadikin Bandung, dr. Laila Wulandari, Sp.A(K), mengatakan tren meningkatnya kasus alergi pada anak belakangan ini tidak lepas dari gaya hidup keluarga perkotaan. Banyak orang tua lebih memilih makanan cepat saji atau produk kemasan karena praktis, namun sering kali mengabaikan kandungan gizinya.

“Anak-anak sekarang banyak mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan pengawet, tapi rendah serat. Padahal serat berperan penting menjaga kesehatan usus dan sistem imun. Jika usus tidak sehat, anak lebih rentan mengalami alergi,” ujar dr. Laila saat ditemui di Bandung, Kamis (18/9/2025).
Menurutnya, usus dikenal sebagai pusat imunitas tubuh karena di sanalah sebagian besar bakteri baik (mikrobiota) berada. Serat dari buah, sayur, dan biji-bijian berfungsi memberi nutrisi bagi bakteri baik tersebut. Jika asupan serat minim, keseimbangan mikrobiota terganggu, sehingga sistem imun menjadi tidak stabil dan lebih mudah bereaksi berlebihan terhadap zat pemicu alergi.
Ia mencontohkan, alergi yang sering dialami anak meliputi alergi makanan, kulit (dermatitis atopik), maupun pernapasan (asma dan rhinitis alergi). Gejala awal bisa berupa gatal-gatal, ruam, diare, batuk, atau hidung tersumbat berkepanjangan.
“Banyak orang tua mengira itu hanya sakit biasa. Padahal bisa jadi itu tanda alergi. Penting untuk segera memeriksakan anak ke dokter agar bisa diketahui penyebabnya,” tambahnya.
Selain pola makan, faktor lingkungan juga turut memengaruhi. Anak yang terlalu sering terpapar polusi udara atau jarang beraktivitas fisik di luar ruangan lebih berisiko mengalami alergi.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Laila menyarankan orang tua untuk:
- Meningkatkan konsumsi serat dari buah, sayur, dan makanan segar.
- Mengurangi makanan kemasan yang tinggi gula, garam, dan pengawet.
- Membiasakan anak aktif bergerak di luar ruangan, dengan tetap memperhatikan kebersihan.
- Konsultasi rutin dengan dokter anak bila ada gejala mencurigakan.
“Jangan menunggu alergi menjadi parah. Deteksi dini dan perubahan pola makan sederhana bisa sangat membantu menurunkan risikonya,” pungkas dr. Laila.
Fenomena meningkatnya alergi pada anak menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih bijak memilih makanan. Di tengah gempuran produk instan, peran orang tua sangat penting dalam menjaga pola makan sehat anak sejak dini.
