Kuala Lumpur, Harianjabar.com — Beberapa dari 23 relawan asal Malaysia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ke Gaza mengaku mengalami perlakuan kasar selama ditahan oleh aparat Israel, menurut pengakuan relawan dan laporan media setempat.
Kronologi Penahanan
Relawan GSF berangkat untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan di Gaza, termasuk pangan, obat-obatan, dan perlengkapan medis. Namun, beberapa dari mereka ditahan oleh aparat Israel saat memasuki wilayah perbatasan.
Seorang relawan, yang meminta identitasnya disamarkan, menuturkan:
“Selama ditahan, kami mengalami perlakuan fisik seperti dijambak dan ditampar, serta kondisi makanan yang diberikan dianggap tidak layak dikonsumsi manusia.”
Kondisi Selama Penahanan
Menurut pengakuan relawan:
- Tempat penahanan sempit dan kurang higienis.
- Waktu komunikasi dan istirahat sangat terbatas, menimbulkan tekanan fisik dan psikologis.
- Beberapa relawan merasa terintimidasi, meski tujuan mereka adalah misi kemanusiaan.

Reaksi Pemerintah dan Organisasi Internasional
Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan telah melakukan upaya diplomatik untuk memastikan perlindungan bagi relawan.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan internasional seperti International Committee of the Red Cross (ICRC) menegaskan bahwa relawan kemanusiaan berhak mendapatkan perlindungan sesuai hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa yang mengatur perlakuan terhadap pekerja kemanusiaan dan tahanan sipil.
Dampak Kemanusiaan
Pengalaman ini menyoroti risiko yang dihadapi relawan kemanusiaan di wilayah konflik, seperti:
- Gangguan distribusi bantuan, karena intimidasi atau penahanan.
- Dampak psikologis bagi relawan yang mengalami kekerasan.
- Tantangan koordinasi internasional, terutama dalam memastikan misi kemanusiaan berjalan tanpa hambatan.
Pernyataan Relawan
Relawan berharap pengalaman mereka menjadi perhatian dunia internasional, sehingga misi kemanusiaan dapat berlangsung tanpa ancaman dan kekerasan.
“Kami di sini untuk membantu yang membutuhkan, bukan untuk berkonflik. Dunia harus tahu kondisi kami,” kata salah satu relawan.
