Bandung–
Warga Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, digemparkan oleh penemuan tak biasa di sebuah permakaman tua yang sudah lama tak terurus. Dua warga setempat, Wahyu dan Nendi, menemukan sebuah benda besar menyerupai kepala naga terkubur di bawah tanah. Temuan ini bukan hanya mencengangkan secara visual, tetapi juga mengundang suasana mencekam, penuh rasa takjub dan khawatir.
Bermula dari Firasat, Berujung pada Penemuan Tak Terduga
Penemuan ini terjadi pada hari Jumat pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Menurut pengakuan Wahyu, ia mendapat semacam firasat untuk menggali di lokasi tersebut. Setelah menggali sekitar setengah meter, perlahan mulai terlihat bentuk kepala besar dengan ornamen unik. Ketika seluruh bagian kepala naga terangkat, suasana di sekitar mendadak hening. Beberapa warga yang menyaksikan mengatakan merinding dan enggan mendekat.
Benda sepanjang 110 cm dan berat hampir 30 kg itu tampak seperti terbuat dari batu keras. Ukiran sisik yang detail, mulut terbuka dengan gigi taring, serta mahkota berbentuk bunga teratai di kepalanya, memberi kesan bahwa benda ini bukan sekadar patung biasa, melainkan artefak kuno bernilai tinggi.
Yang membuat penemuan ini semakin menegangkan adalah munculnya rumor bahwa tempat itu memiliki “penunggu” berupa ular besar. Beberapa warga mengaku pernah melihat ular hitam melintas di area tersebut, bahkan sebelum kepala naga ditemukan.
Artefak Kuno yang Mengandung Simbol-Simbol Kerajaan
Setelah penemuan tersebut, Wahyu dan Nendi segera melaporkan ke pihak Museum Sri Baduga. Kurator museum, Romulo, bersama timnya langsung turun ke lokasi untuk mengevakuasi benda tersebut. Mereka mengapresiasi warga yang cepat melapor, meski menyayangkan bahwa artefak sempat dibersihkan secara manual sebelum diamankan. Proses pembersihan tanpa pengawasan ahli dikhawatirkan menghapus data penting pada lapisan tanah atau endapan sekitar artefak.
Artefak kemudian dibawa ke Museum Sri Baduga dan disimpan di ruang khusus dengan pengaturan suhu 25 derajat Celsius untuk menjaga kualitasnya. Tim kurator masih melakukan kajian awal sebelum membawa temuan ini ke proses analisis laboratorium dan kajian arkeologi mendalam.
Sejarawan: Ini Bukan Sekadar Kepala Naga
Menurut sejarawan dan budayawan Opan Safari dari Cirebon, artefak ini diduga kuat merupakan representasi dari Paksi Naga Liman—simbol kerajaan Cirebon yang memadukan unsur naga, gajah, dan burung garuda. Lambang ini merupakan warisan budaya era pasca-Majapahit dan digunakan dalam atribut kekuasaan serta ritual kebesaran keraton.
Mahkota bunga teratai di kepala naga disebut Binokasih, simbol raja dalam mitologi pewayangan. Motif semacam ini juga terlihat pada Kereta Singa Barong milik Kesultanan Cirebon, yang digunakan dalam upacara resmi kerajaan. Artinya, artefak yang ditemukan ini kemungkinan besar punya kaitan dengan sejarah kerajaan, bukan hanya sekadar benda hias atau dekoratif.
Lebih lanjut, lokasi penemuan di permakaman tua juga menimbulkan spekulasi bahwa benda ini merupakan penanda makam tokoh penting atau situs ritual yang berkaitan dengan kepercayaan kuno masyarakat Sunda.
Warga Minta Lokasi Diberi Penanda dan Dijaga
Pasca penemuan, masyarakat sekitar mulai memperlakukan lokasi tersebut sebagai tempat yang sakral. Beberapa warga bahkan menggelar doa bersama dan meminta agar pemerintah daerah memberikan tanda atau pagar pembatas agar tidak ada yang menggali atau merusak area tersebut sembarangan.
“Ini bukan hal biasa, harusnya ada tim ahli yang terus melakukan penelitian. Kami di sini sudah lama merasa tempat itu ‘berbeda’,” ujar salah satu tokoh warga, Pak Darta.
Makna yang Lebih Dalam: Antara Mitos, Sejarah, dan Identitas Budaya
Penemuan kepala naga ini membuka kembali kesadaran publik akan kekayaan budaya dan spiritual yang tertanam di bumi Sunda. Ia bukan hanya sekadar patung tua, tapi bisa jadi merupakan bukti warisan leluhur yang masih hidup hingga kini dalam bentuk artefak dan kepercayaan masyarakat.
Saat ini, artefak tersebut menjadi bagian dari koleksi terbatas Museum Sri Baduga dan belum dipamerkan ke publik secara terbuka, sambil menunggu hasil penelitian lengkap dari tim arkeologi.
