Bangkok/Phnom Penh – Ketegangan bersenjata yang meletus di perbatasan Thailand dan Kamboja tak hanya menelan korban fisik dan merusak infrastruktur, tetapi juga memicu kekacauan di sektor finansial. Mata uang Thailand, baht, mengalami pelemahan tajam dalam beberapa hari terakhir, sebagai imbas dari meningkatnya eskalasi konflik antara dua negara bertetangga ini.
Menurut data pasar valuta asing pada Kamis (24/7), nilai tukar baht terhadap dolar AS turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Para pelaku pasar disebut mulai menarik dana mereka dari Thailand, khawatir konflik berkepanjangan akan berdampak terhadap stabilitas ekonomi dan iklim investasi negara itu.
“Investor merespons situasi ini dengan aksi jual besar-besaran. Risiko geopolitik menjadi tekanan utama,” ujar Thanakorn Wattanakul, analis keuangan dari Bangkok Securities, kepada The Nation.
Ketegangan Meletus, Jet Tempur dan Roket Dikerahkan
Konflik Thailand-Kamboja kembali memanas sejak awal pekan ini, dengan laporan saling serang menggunakan jet tempur, roket, dan artileri berat di wilayah perbatasan yang disengketakan, terutama di sekitar kawasan kuil kuno Preah Vihear. Kedua belah pihak saling menuding telah melanggar garis demarkasi dan memicu provokasi militer.
Pemerintah Thailand menyatakan tindakannya adalah respons terhadap pelanggaran wilayah, sementara Kamboja menyebut serangan udara Thailand sebagai agresi sepihak yang melanggar hukum internasional.
Kementerian Pertahanan Thailand dan Kamboja belum menyampaikan jumlah pasti korban jiwa maupun kerusakan, namun gambar dan video dari media lokal menunjukkan puing-puing bangunan, kendaraan militer hancur, dan warga sipil mengungsi ke daerah yang lebih aman.
Efek Domino ke Kawasan dan Dunia Usaha
Ketegangan ini dikhawatirkan membawa efek domino ke negara-negara tetangga dan menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara. Bursa saham Bangkok mencatat penurunan tajam indeks utama, sementara sektor pariwisata—yang menjadi tulang punggung ekonomi Thailand—terpukul akibat pembatalan kunjungan turis dan penundaan sejumlah agenda internasional.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan ekspor-impor di perbatasan juga melaporkan terganggunya distribusi logistik dan pasokan bahan pokok.
“Kami tidak bisa mengirim barang ke Kamboja selama dua hari terakhir. Jalan diblokir, dan sopir truk takut melintas karena takut tertembak,” kata Chanida, pemilik bisnis ekspor makanan kering di Ubon Ratchathani.
Upaya Diplomasi dan Seruan Perdamaian
Sejumlah negara anggota ASEAN telah menyerukan gencatan senjata dan dialog terbuka antara Thailand dan Kamboja untuk mencegah meluasnya konflik. Sekjen ASEAN, Kao Kim Hourn, dalam pernyataannya mengatakan bahwa blok regional akan menawarkan mediasi netral.
PBB juga telah menyuarakan keprihatinan dan meminta kedua negara menahan diri agar tidak menyeret kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.
Kedua negara menyatakan masih terbuka untuk dialog, namun masing-masing tetap mempertahankan sikap keras di lapangan. Upaya mediasi internasional diperkirakan akan menjadi ujian penting bagi diplomasi kawasan dan masa depan hubungan bilateral Thailand-Kamboja.
Prospek Ekonomi Thailand di Tengah Gejolak
Dengan pelemahan baht dan ketegangan militer yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand bisa direvisi turun jika konflik terus berlanjut. Bank Sentral Thailand (BoT) pun mulai mewaspadai potensi capital outflow dan tekanan terhadap neraca perdagangan.
“Jika konflik berlangsung lebih dari satu bulan, kita akan melihat tekanan yang lebih besar terhadap konsumsi domestik, investasi, dan ekspor,” ujar Pakorn Siriwong, ekonom dari Universitas Chulalongkorn.
Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja bukan hanya tragedi kemanusiaan di perbatasan, tetapi juga ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor. Nilai tukar baht yang babak belur menjadi salah satu indikator awal dari tekanan multidimensi yang sedang dihadapi Thailand. Sementara itu, dunia menanti: apakah diplomasi mampu menyelamatkan dua negara dari konflik yang lebih luas?
