Jakarta, – Rokok selama ini dikenal sebagai penyebab utama berbagai penyakit kronis, mulai dari kanker hingga jantung. Namun kini, bahaya rokok semakin menyeruak dan menjangkau sisi yang lebih menyedihkan: masa depan anak-anak Indonesia. Dalam laporan terbaru, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan sejumlah pakar mengungkap bahwa asap rokok ternyata berkontribusi besar terhadap stunting — kondisi gagal tumbuh yang mengancam kualitas generasi bangsa.
Apa Itu Stunting dan Mengapa Rokok Terlibat?
Stunting bukan sekadar anak bertubuh pendek. Ini adalah kondisi kronis yang menunjukkan adanya kekurangan gizi dalam waktu lama, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan — sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun.
Rokok, baik secara langsung maupun pasif, ternyata memperparah situasi ini. Paparan asap rokok di dalam rumah dapat mengganggu sistem imun anak, merusak saluran pernapasan, bahkan menyebabkan penurunan nafsu makan. Anak pun jadi lebih rentan terserang penyakit dan sulit menyerap nutrisi, yang pada akhirnya memperbesar risiko stunting.
Data Mengejutkan: Rokok dan Angka Stunting Berjalan Seiring
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menegaskan bahwa anak yang terpapar asap rokok di rumah memiliki risiko 5,5% lebih tinggi mengalami stunting dibanding anak yang tinggal di lingkungan bebas asap rokok.
“Masalahnya bukan hanya pada perokok aktif, tetapi bagaimana anak-anak ini menjadi korban pasif. Ketika seorang ayah atau anggota keluarga lain merokok di rumah, maka anak-anak tanpa sadar menghirup racun itu setiap hari,” ujarnya dalam diskusi kesehatan di Jakarta.
Lebih ironisnya lagi, kebiasaan merokok juga menggerogoti anggaran keluarga. Menurut survei Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) bersama BKKBN, keluarga miskin lebih memilih membeli rokok daripada makanan bergizi, seperti telur atau ikan.
“Dalam rumah tangga dengan pengeluaran terbatas, setiap batang rokok adalah potensi satu piring nasi atau segelas susu yang hilang,” kata Ketua PKJS-UI, Aryana Satrya.
Bahaya Bagi Ibu Hamil dan Bayi
Efek rokok tidak berhenti di situ. Pada ibu hamil, asap rokok berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, kondisi yang berujung pada risiko stunting sejak lahir. Padahal, pertumbuhan otak dan organ vital anak sebagian besar terjadi selama kehamilan.
“Kalau janin sudah mulai gagal tumbuh sejak dalam kandungan, maka kita sudah memulai hidupnya dengan defisit,” ujar Aryana.
Dampak Jangka Panjang: Dari IQ Rendah hingga Masalah Ekonomi
Stunting tak hanya berdampak pada tinggi badan. Anak yang mengalami stunting terbukti memiliki daya tahan tubuh rendah, tingkat konsentrasi lemah, dan performa akademik menurun. Dalam jangka panjang, ini akan berdampak pada produktivitas tenaga kerja dan beban ekonomi negara.
Kemenkes mencatat bahwa angka stunting di Indonesia pada 2023 mencapai 21,5%, dan pemerintah menargetkan penurunan menjadi di bawah 14% pada tahun 2024. Untuk itu, semua faktor risiko — termasuk rokok — harus segera ditekan.
Ajakan Serius: Stop Merokok di Rumah, Selamatkan Masa Depan Anak
Dalam kampanye nasionalnya, Kemenkes mengajak para orang tua untuk:
- Tidak merokok di dalam rumah, apalagi di dekat anak-anak atau ibu hamil,
- Mengalihkan anggaran rokok untuk makanan bergizi dan pendidikan anak,
- Menggunakan layanan berhenti merokok seperti Quitline.INA 0-800-177-6565 atau layanan WhatsApp resmi Kemenkes.
Pemerintah juga mengajak tokoh masyarakat, pemuka agama, hingga influencer media sosial untuk menyebarkan kesadaran soal bahaya asap rokok terhadap masa depan anak-anak Indonesia.
