Jakarta, HarianJabar.com — Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkap fakta mengejutkan terkait kondisi kesehatan mental anak-anak Indonesia. Berdasarkan data survei nasional terbaru, 1 dari 10 anak usia sekolah di Indonesia pernah mencoba bunuh diri. Temuan ini menyoroti urgensi penanganan masalah kesehatan jiwa sejak dini di lingkungan pendidikan.
“Ini bukan angka kecil. Ini adalah sinyal bahaya yang harus segera ditindaklanjuti oleh semua pihak, termasuk sekolah, keluarga, dan pemerintah,” ujar Menkes Budi dalam sambutannya di acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional, Jum’at (1/8/2025).
Tekanan Sosial dan Akademik Jadi Pemicu
Menkes menjelaskan bahwa faktor pemicu utamanya adalah tekanan akademik, perundungan (bullying), serta minimnya akses anak terhadap pendampingan psikologis di sekolah. Ia menyebut, banyak anak yang merasa terisolasi dan tidak tahu harus bercerita ke siapa saat mengalami tekanan.
Kementerian Kesehatan mencatat, tingkat gangguan kesehatan mental di kalangan pelajar meningkat signifikan pascapandemi COVID-19. Hal ini diperparah dengan maraknya penggunaan media sosial tanpa pengawasan, yang kerap memicu rasa tidak aman dan perbandingan sosial berlebihan.
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
Langkah Pemerintah: Terapkan Psikolog Sekolah
Sebagai respons atas temuan ini, Kemenkes bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah menyiapkan kebijakan penempatan psikolog atau konselor profesional di setiap sekolah.
“Kami tidak bisa menunda. Kita butuh sistem yang menjamin anak-anak punya tempat aman untuk bicara,” ujar Menkes.
Pemerintah juga akan meluncurkan program edukasi kesehatan jiwa untuk guru dan orang tua, agar lebih tanggap terhadap tanda-tanda gangguan mental pada anak.
Psikolog: Orang Tua Jangan Anggap Remeh
Psikolog anak dan remaja, Dr. Intan Ayu, M.Psi, menekankan pentingnya kehadiran dan keterbukaan dalam komunikasi keluarga. Ia menyebut, banyak kasus percobaan bunuh diri terjadi karena anak merasa tidak dipahami.
“Satu kalimat sederhana seperti ‘kamu baik-baik saja?’ bisa sangat berarti. Anak hanya butuh didengar tanpa dihakimi,” ujarnya.
