Jakarta, 22 Mei 2025 — Perkumpulan Jujutsu Tradisional Indonesia menggelar pelantikan pengurus pusat yang berlangsung secara hybrid dan dihadiri oleh perwakilan dari 11 provinsi. Acara ini dilaksanakan di Ruang Teater Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, dengan dukungan penuh dari Kemenpora dan Komite Olahraga Masyarakat Nasional (KORMINAS).
Pelantikan ini turut dihadiri oleh tokoh penting di bidang olahraga, antara lain Dra. Marheni Dyah Kusumawati, M.Pd, selaku Asisten Deputi Olahraga Masyarakat (Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga, Kemenpora RI), Irwan Purwanto dari KORMINAS (Anggota Bidang Organisasi dan Hukum), serta Ketua Umum Perkumpulan Jujutsu Tradisional Indonesia, Soke Drs. Ali Akbar Hehaitu, Grand Master 10 Dan Jujutsu Internasional.
Dalam sambutannya, Ketua Harian Dewi Yuliawati, S.IP, menyampaikan harapan besar agar lebih banyak Pengurus Daerah (Pengda) di berbagai provinsi mampu mencetak kader atlet yang berprestasi. Hal ini ditujukan agar Jujutsu Tradisional dapat berkontribusi menyumbangkan medali dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) NTB 2025.

Warisan Budaya yang Menjadi Olahraga Resmi
Jujutsu Tradisional merupakan seni beladiri warisan Jepang yang kini telah bertransformasi menjadi olahraga yang terstruktur. Tidak hanya fokus pada kekuatan fisik, Jujutsu mengedepankan teknik, keluwesan, dan keterampilan.
Ketua Umum Soke Ali Akbar Hehaitu menyatakan bahwa, “Jujutsu bukan sekadar bela diri. Ini adalah seni untuk mengalahkan lawan dengan cerdas, tanpa mengandalkan kekuatan brutal.”
Lima Kategori Pertandingan Resmi Jujutsu Tradisional
Dalam pengembangannya, Jujutsu Tradisional telah menetapkan lima kategori pertandingan resmi, yakni:
- Kumite – Serangan cepat dan efektif yang dikombinasikan dengan bantingan dan kuncian, namun tanpa pukulan di lantai.
- Nage Waza – Teknik lempar pasangan setelah tantangan rotasi untuk menguji keseimbangan.
- Goshin Jutsu – Teknik bela diri dalam kondisi keseimbangan terganggu.
- Ukemi Waza – Teknik dasar jatuhan untuk keamanan praktisi.
- Shita Randori – Pertandingan dalam posisi duduk (back-to-back) yang juga inklusif bagi penyandang disabilitas.

Pembinaan Pelatih dan Wasit Secara Berkelanjutan
Perkumpulan Jujutsu Tradisional Indonesia menetapkan program pembinaan jangka panjang sebagai berikut:
- Penataran Wasit dan Juri: Dilaksanakan selama 2–3 hari, menghasilkan lisensi resmi bagi para pelatih.
- Training of Trainer (ToT): Selama 6 bulan untuk mencetak pelatih bersertifikat sabuk hitam (non-sabuk hingga sabuk coklat).
- Training Khusus Master: Pelatihan leadership bagi sabuk hitam 2 Dan ke atas, mencakup teori, public speaking, pembuatan karya ilmiah, dan sidang ilmiah.
Menuju Prestasi Nasional dan Internasional
Dengan struktur dan kurikulum yang terukur, serta semangat gotong royong di antara pengurus, pelatih, dan atlet, Jujutsu Tradisional diyakini akan terus berkembang. Perkumpulan menargetkan kehadiran olahraga ini di setiap provinsi, hingga menjadi bagian penting dari prestasi olahraga nasional dan dunia.
Salam olahraga — Sehat, Bugar, dan Bahagia.
