Subang —
Di tengah hamparan alam tropis Subang, Jawa Barat, terdapat sebuah tanaman langka yang tak banyak diketahui masyarakat luas. Tanaman tersebut berasal dari Benua Afrika dan telah hidup serta berkembang secara alami di wilayah ini selama ratusan tahun. Keberadaannya menjadi bukti kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus menyimpan sejarah unik migrasi flora dunia.
Tanaman yang dimaksud adalah Baobab (Adansonia digitata), pohon raksasa ikonik dari Afrika yang dikenal dengan sebutan Tree of Life. Di Subang, pohon ini ditemukan tumbuh menjulang tinggi dengan batang besar yang khas, bahkan beberapa di antaranya diperkirakan telah berusia lebih dari 300 tahun. Meski berasal dari sabana Afrika, pohon ini mampu beradaptasi dengan baik di iklim tropis Indonesia.
Jejak Sejarah: Diduga Dibawa oleh Penjelajah atau Saudagar
Keberadaan baobab di Indonesia, khususnya di Subang, diduga erat kaitannya dengan jalur pelayaran dan perdagangan global pada masa lampau. Sejarawan lokal dan peneliti botani menduga pohon-pohon ini dibawa ke tanah Jawa oleh para pedagang Arab atau Afrika Timur pada abad ke-17 hingga 18. Ada kemungkinan mereka menanamnya sebagai bagian dari pengobatan tradisional atau simbol kekuatan spiritual.
“Pohon baobab ini bukan sekadar tanaman asing. Ia membawa jejak peradaban lintas benua. Ada kemungkinan benihnya dibawa oleh pelaut atau saudagar saat Indonesia menjadi bagian penting dalam jalur rempah,” ungkap Dr. Sulaiman Zain, pakar botani dari Universitas Padjadjaran.
Manfaat dan Keunikan Baobab
Baobab dikenal sebagai tanaman multifungsi di daerah asalnya. Buahnya kaya vitamin C dan antioksidan, daunnya digunakan sebagai sayuran atau obat herbal, sementara kulit batangnya bisa dimanfaatkan sebagai serat alami. Tak hanya itu, bentuk batang yang gemuk mampu menyimpan ribuan liter air — alasan mengapa ia dijuluki pohon kehidupan.
Di Subang, meski tidak banyak dimanfaatkan secara intensif, pohon-pohon baobab ini menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti, wisatawan, hingga pecinta alam. Bentuknya yang unik dan megah menjadikannya objek foto dan riset menarik.
Butuh Perlindungan dan Pelestarian
Sayangnya, belum ada perlindungan khusus terhadap pohon-pohon baobab di Subang. Sebagian tumbuh di lahan milik pribadi atau pinggir jalan yang rawan tergerus pembangunan. Pemerintah daerah bersama komunitas lingkungan mulai merancang langkah pelestarian, termasuk pendataan usia pohon, penanaman ulang, dan kemungkinan menjadikannya bagian dari wisata edukatif.
“Kami mendorong agar pohon-pohon ini dijaga dan dijadikan simbol kekayaan alam Subang. Ini warisan biologis yang tidak bisa ditemukan di banyak tempat,” ujar Risa Mahayun, pegiat konservasi dari Forum Hijau Subang.
