Cimahi – Di tengah hiruk-pikuk kabar beras oplosan yang ramai jadi perbincangan nasional, warga Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi justru bersikap tenang dan tak terusik. Bagi mereka, polemik seputar kualitas dan keaslian beras bukanlah hal yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Pasalnya, mereka sejak lama telah memutuskan untuk tidak bergantung pada beras sebagai bahan makanan pokok utama.
Warga Kampung Adat Cireundeu dikenal sebagai komunitas adat yang menjadikan singkong (ubi kayu) sebagai pangan utama. Pilihan ini bukan sekadar tradisi, tapi juga bentuk kemandirian pangan yang telah diwariskan turun-temurun.
“Kami tidak panik soal beras. Kami tidak makan nasi dari beras, tapi dari singkong. Sudah puluhan tahun seperti itu, dan kami sehat-sehat saja,” ujar Asep Suherman, tokoh adat Cireundeu.
Tradisi Pangan Lokal yang Konsisten
Pilihan warga Cireundeu meninggalkan beras bukanlah keputusan sesaat. Sejak dekade 1920-an, leluhur mereka telah memutuskan untuk tidak mengandalkan beras sebagai pangan utama. Selain karena alasan ketersediaan alam, keputusan itu juga menyimbolkan kemandirian dan perlawanan terhadap ketergantungan sistem pangan yang dikontrol pasar.
Di kampung yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, ini, masyarakat mengolah singkong menjadi rasi (beras singkong), yang teksturnya menyerupai nasi. Rasi ini menjadi santapan harian yang dikonsumsi bersama sayuran, lauk, dan sambal, layaknya masyarakat Indonesia yang mengonsumsi nasi dari beras.
“Singkong ditanam sendiri, diolah sendiri. Kami tahu sumber makan kami berasal dari tanah sendiri,” ujar Yayah, warga setempat.
Respon atas Kisruh Beras Oplosan
Belakangan ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan temuan beras impor yang dioplos dan dijual sebagai beras premium. Temuan itu membuat banyak konsumen resah terhadap kualitas beras yang mereka konsumsi setiap hari. Namun, kekhawatiran itu nyaris tak terdengar di Cireundeu.
Warga adat tersebut justru menunjukkan bahwa kedaulatan pangan dapat dicapai tanpa harus terjebak dalam ketergantungan terhadap komoditas beras yang dikendalikan distribusi besar.
“Masalah beras oplosan itu jadi pelajaran buat semua. Kalau kita masih bergantung, kita pasti kena dampaknya. Tapi kalau bisa berdikari seperti di sini, kita bisa tenang,” tambah Asep.
Kampung Adat yang Menjadi Contoh
Kampung Adat Cireundeu kini sering dijadikan contoh oleh berbagai pihak, baik akademisi maupun aktivis pangan, sebagai model kemandirian lokal. Di tengah gempuran globalisasi dan modernisasi, mereka tetap mempertahankan prinsip hidup selaras dengan alam, memanfaatkan potensi lokal, dan membatasi ketergantungan pada luar.
Meski tampak sederhana, pola hidup masyarakat Cireundeu menunjukkan solusi nyata terhadap krisis pangan yang kerap melanda. Mereka tidak menolak modernitas, namun memilih menjalani gaya hidup yang berakar pada nilai-nilai lokal dan kebijaksanaan leluhur.
