Ciamis – Di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi digital, sekelompok anak muda di Kabupaten Ciamis memilih langkah berbeda. Mereka menengok ke belakang, menatap masa lalu, dan berupaya membangkitkan kembali kekayaan literasi Sunda yang nyaris terlupakan melalui sebuah gerakan budaya bernama Nyawang Bulan.
Gerakan ini lahir dari keresahan terhadap makin lunturnya perhatian masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap naskah-naskah kuno Sunda yang selama ini hanya tersimpan di rak perpustakaan atau museum, tanpa tersentuh dan terbaca. Padahal, naskah tersebut menyimpan nilai-nilai budaya, filosofi, sejarah, hingga kearifan lokal yang sangat kaya dan relevan untuk kehidupan masa kini.
Hadir Lewat Seni, Sastra, dan Refleksi Budaya
Nyawang Bulan bukan sekadar komunitas seni biasa. Mereka menggabungkan unsur sastra, teater, pertunjukan musik, dan diskusi terbuka untuk membumikan kembali isi dari naskah-naskah kuno. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan mentransformasikan isi naskah ke dalam bentuk pertunjukan yang menarik dan lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, terutama kalangan milenial dan Gen Z.
Pertunjukan mereka mengangkat isi naskah klasik seperti Wawacan, Pantun Sunda, dan cerita rakyat lokal yang sarat pesan moral dan spiritual. Naskah-naskah tersebut kemudian ditafsir ulang ke dalam bentuk dramatik, puisi visual, hingga musikalisasi modern tanpa menghilangkan esensi aslinya.
“Kita tidak sekadar membaca ulang, tapi mencoba memahami dan menafsirkan kembali isi naskah dengan cara yang relevan bagi generasi saat ini,” ujar Rafi Prasetya, salah satu inisiator Nyawang Bulan.
Menghidupkan Warisan Leluhur yang Nyaris Terlupakan
Sebagian besar naskah yang mereka garap merupakan warisan abad ke-17 hingga awal abad ke-20, yang ditulis dalam aksara Pegon dan Cacarakan. Beberapa bahkan telah dikonversi dari manuskrip kuno yang nyaris rusak dan hanya bisa dibaca oleh kalangan tertentu.
Melalui kegiatan ini, Nyawang Bulan berusaha menjadikan naskah kuno sebagai bagian dari narasi publik yang hidup dan berdialog dengan zaman. Mereka ingin naskah itu tidak hanya dibaca oleh akademisi atau disimpan sebagai artefak, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi inspirasi dan bahan pembelajaran bagi generasi muda.
“Kami percaya bahwa masa depan budaya ada di tangan anak muda. Kalau bukan kami yang memulai, siapa lagi?” tambah Rafi.
Dukungan Komunitas dan Pemerhati Budaya
Gerakan ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk budayawan dan pemerhati sejarah. Dinas Kebudayaan Kabupaten Ciamis pun mulai melirik Nyawang Bulan sebagai mitra strategis dalam pelestarian budaya lokal.
Menurut budayawan Sunda, Dr. Asep Kurnia, Nyawang Bulan adalah contoh nyata regenerasi budaya yang langka dan harus didukung.
“Mereka tidak hanya melestarikan, tapi juga merekonstruksi makna budaya lama agar bisa bersuara di zaman modern,” jelas Asep.
Menatap Bulan, Menyentuh Akar
Nama Nyawang Bulan sendiri diambil dari filosofi “menatap bulan” sebagai simbol refleksi dan pencarian makna. Bagi mereka, bulan adalah cermin masa lalu yang terus memantulkan cahaya di masa kini. Dengan menatap bulan, generasi muda Ciamis berusaha menyentuh kembali akar-akar kebudayaan mereka, lalu menyuarakannya dengan cara yang segar dan inklusif.
Kegiatan mereka tidak hanya berlangsung secara lokal. Beberapa pertunjukan telah diundang di tingkat provinsi dan tampil dalam berbagai forum kebudayaan. Bahkan, mereka sedang merancang program digitalisasi naskah dan dokumentasi pertunjukan agar bisa diakses lebih luas melalui media sosial dan platfo
Nyawang Bulan menjadi oase di tengah derasnya arus modern yang sering kali menjauhkan generasi muda dari budaya lokal. Lewat semangat, kreativitas, dan kecintaan terhadap warisan leluhur, para pemuda Ciamis ini membuktikan bahwa budaya bukan untuk dilestarikan dalam diam, tetapi untuk dihidupkan kembali—agar terus menyinari generasi berikutnya, layaknya cahaya bulan yang tak pernah padam.
