HARIAN JABAR, BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang serta persoalan pengelolaan sampah yang diperkirakan menjadi tantangan dalam beberapa bulan mendatang.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memimpin rapat koordinasi bersama unsur TNI, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta kepala daerah dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat guna membahas strategi mitigasi menghadapi kondisi tersebut.
Dalam rapat tersebut, Dedi menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini agar dampak musim kemarau maupun persoalan sampah tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar bagi masyarakat.
“Kita harus mengantisipasi dampak kemarau panjang ini, mulai dari kekeringan hingga potensi kebakaran,” ujar Dedi.
Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Karena itu, pemerintah daerah diminta segera memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih maupun kerawanan bencana selama musim kemarau.
Data tersebut nantinya akan menjadi dasar penyusunan langkah penanganan, termasuk distribusi bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak serta dukungan terhadap sektor pertanian yang membutuhkan pasokan air selama musim kemarau.
Selain persoalan cuaca, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menaruh perhatian terhadap potensi krisis sampah akibat keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti yang selama ini menjadi salah satu fasilitas utama pengelolaan sampah di Jawa Barat.
Pemprov Jabar menilai koordinasi lintas daerah menjadi faktor penting untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal serta mengurangi risiko dampak lingkungan yang dapat muncul akibat penumpukan sampah.
Melalui langkah mitigasi yang disiapkan sejak dini, pemerintah berharap dampak kemarau panjang maupun persoalan pengelolaan sampah dapat diminimalkan sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan baik.
