Bandung – Jalan Soekarno Hatta yang membentang sepanjang sisi selatan Kota Bandung bukan hanya dikenal sebagai jalur penghubung vital antarkecamatan dan antarwilayah, tetapi kini juga dikenal sebagai lokasi yang rawan kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas. Warga yang setiap hari melintas di jalur ini mengaku resah dengan maraknya aksi berbahaya para pengendara, mulai dari pelanggaran ringan hingga aksi nekat yang mengancam nyawa.
Setiap hari, ribuan kendaraan melintasi jalur ini. Sayangnya, tak semua pengendara menunjukkan sikap disiplin dalam berkendara. Banyak di antaranya yang ugal-ugalan, tak memakai helm, menerobos lampu merah, hingga melawan arus dengan santainya. Kondisi ini diperparah oleh minimnya pengawasan dari aparat serta penerangan jalan yang tidak merata.
“Saya sudah tiga kali hampir tertabrak motor yang melawan arus dari arah Sukarno Hatta menuju Kiaracondong. Mereka seperti tidak peduli dengan keselamatan pengguna jalan lain,” ujar Rudi Setiawan (42), seorang warga Antapani yang setiap hari menggunakan jalur tersebut untuk berangkat kerja.
Balap Liar & Knalpot Bising: Kegaduhan Malam di Soekarno Hatta
Masalah tak berhenti di siang hari. Saat malam tiba, terutama menjelang tengah malam, sejumlah titik di Jalan Soekarno Hatta berubah menjadi lintasan balap liar. Suara knalpot bising memecah keheningan malam, dan kelompok-kelompok muda terlihat berkumpul, seolah menjadikan jalan umum sebagai sirkuit pribadi.
“Setiap malam akhir pekan, saya bisa dengar suara motor menderu-deru. Anak saya jadi takut tidur, padahal rumah kami agak jauh dari jalan,” tutur Sri Marlina, warga Kelurahan Batununggal.
Balap liar bukan hanya gangguan suara. Lebih dari itu, aksi ini sangat berbahaya karena dilakukan tanpa perlindungan dan sering kali berujung pada kecelakaan yang merugikan pengendara maupun pengguna jalan lain.
Minimnya Penegakan Hukum dan Infrastruktur Pendukung
Menurut pengamat transportasi dari Universitas Pasundan, Dr. Hendra Sudrajat, kondisi ini menggambarkan lemahnya sistem penegakan hukum di lapangan. Ia menyebutkan bahwa ketidakhadiran aparat secara rutin di jalan-jalan rawan justru memberi ruang bagi pengendara untuk melakukan pelanggaran.
“Bandung termasuk kota besar yang harusnya memiliki sistem pemantauan lalu lintas modern seperti ETLE dan patroli rutin. Tapi faktanya, pengawasan di beberapa titik seperti Soekarno Hatta masih sangat lemah,” katanya.
Dishub dan Polisi Mulai Bertindak, tapi Dinilai Belum Efektif
Menanggapi keluhan masyarakat, Dinas Perhubungan Kota Bandung menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan beberapa upaya penertiban, termasuk razia knalpot bising dan patroli bersama polisi. Namun, warga menilai bahwa tindakan tersebut belum menyentuh akar masalah karena dilakukan hanya sesekali dan belum menyeluruh.
“Kami terus berkoordinasi dengan kepolisian untuk menambah titik ETLE dan meningkatkan intensitas patroli di kawasan rawan pelanggaran,” .
Sementara itu, dari pihak kepolisian, Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Dwi Nur Setiawan menyebut bahwa edukasi masyarakat juga penting agar pengendara sadar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab pribadi. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan penindakan. Harus dibarengi dengan penyuluhan di sekolah, tempat ibadah, hingga media sosial,” ujarnya.
Warga Desak Aksi Nyata dan Berkelanjutan
Desakan masyarakat semakin kuat untuk meminta pemerintah dan kepolisian bertindak lebih tegas dan konsisten. Mereka menuntut tindakan nyata seperti penambahan kamera pengawas, razia rutin, serta pembatasan kendaraan yang tak laik jalan atau berknalpot bising.
“Kami tidak mau korban terus berjatuhan hanya karena kelalaian aparat dalam menjaga ketertiban lalu lintas,” kata Arman, tokoh masyarakat dari Kelurahan Cijawura.
Tertib Berlalu Lintas Adalah Budaya
Jalan Soekarno Hatta bukan hanya jalur lintas, tetapi juga ruang bersama. Ketika satu pengendara melanggar aturan, maka seluruh pengguna jalan ikut terancam. Dalam situasi ini, semua pihak—mulai dari pemerintah, aparat, hingga masyarakat—harus berperan aktif.
Tertib berlalu lintas bukan hanya kewajiban, tapi cerminan budaya dan peradaban kota. Jika Bandung ingin menjadi kota yang aman dan nyaman, maka keselamatan jalan harus menjadi prioritas bersama.
