Bandung – Pemandangan memprihatinkan menyambut warga dan wisatawan di salah satu ikon utama Kota Bandung: Jalan Ir. H. Djuanda (Dago). Bukannya deretan pepohonan hijau atau trotoar bersih, justru tumpukan sampah membusuk yang terlihat menyesaki jalur hijau di pembatas jalan.
Tepat di tengah-tengah jalur kendaraan, sampah rumah tangga seperti kantong plastik, botol minuman, kardus, bahkan sisa makanan menumpuk dan mengeluarkan bau menyengat. Situasi ini sangat kontras dengan citra Dago sebagai jantung wisata dan kebanggaan kota.
Warga Meradang: “Kota Ini Sedang Sakit?”
Kondisi ini memicu keluhan dari masyarakat. Banyak yang geram, terutama pengguna jalan yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.
“Bau busuknya parah pas siang hari. Ini udah kayak tempat pembuangan sampah liar,” ujar Rina (28), warga Cibeunying.
“Dago itu etalase Bandung! Kalau sampai Dago jorok, apa kabar daerah lain?” kritik Fahri (34), warga Cimahi yang setiap hari bekerja di Bandung.
Petugas Kebersihan Tak Menyangkal
Seorang petugas kebersihan yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa sampah di lokasi tersebut sudah beberapa hari tidak diangkut. Menurutnya, keterbatasan armada dan lonjakan volume sampah di titik lain membuat mereka kewalahan.
“Kami hanya bisa angkut sesuai jadwal, tapi kalau overload seperti sekarang, ya begini jadinya,” jelasnya.
DLHK Belum Merespons
Sampai artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung. Di sisi lain, media sosial sudah dibanjiri keluhan dan foto kondisi terbaru Jalan Dago dengan tagar #DagoKotor dan #BandungKumuh.
Warganet bahkan mulai membandingkan Bandung dengan kota lain yang dianggap lebih bersih dan tertib soal pengelolaan sampah.
Seruan untuk Pemerintah dan Warga
Kebersihan kota adalah wajah dari peradaban warganya. Pemerintah diharapkan tidak menunggu viral baru bergerak. Sementara itu, masyarakat juga diminta tidak membuang sampah sembarangan di ruang publik.
Tanpa perubahan kolektif—baik dari pemerintah maupun warga—Bandung yang dikenal dengan julukan Paris van Java bisa kehilangan daya tarik dan martabatnya.
