Solo, 21–22 Juli 2025 – Isu tagar “Indonesia Gelap”, yang sempat viral di media sosial dan dijadikan tema protes mahasiswa nasional awal tahun ini, kembali menjadi sorotan publik. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa narasi tersebut bukanlah gerakan nyata dari masyarakat, melainkan dikendalikan oleh koruptor melalui buzzer berbayar — klaim yang menuai pro dan kontra.
Klaim dari Istana: “Indonesia Gelap” adalah Propaganda Koruptor
Pada penutupan Kongres PSI 2025 di Surakarta (20 Juli), Prabowo menegaskan bahwa kampanye Indonesia Gelap merupakan bagian rekayasa sistematis oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan pesimisme. Menurutnya, mereka menggunakan teknologi media sosial, uang, dan pakar opini untuk menyebarkan narasi negatif. Demonstrasi yang menyerukan “kabur aja” maupun tagar tersebut, kata dia, dibiayai oleh koruptor yang tidak rela melihat Indonesia dan pemerintahnya bersih.
“Saya geleng-geleng kepala… orang pintar yang seharusnya memberi harapan malah menyebarkan pesimisme… dibayar oleh mereka yang ingin Indonesia selalu gaduh… koruptor,” ucapnya kala itu.
Di Balik Tagar: Ini Adalah Suara Mahasiswa dan Aktivis
Tidak semua pihak sepakat dengan tuduhan tersebut. Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menolak klaim bahwa gerakan itu dibayar oleh pihak tertentu. Ia menyebut narasi Indonesia Gelap muncul atas idealisme rakyat dan mahasiswa, bukan hasil rekayasa. Tuduhan seperti itu, menurutnya, justru merendahkan gerakan sipil yang murni menyuarakan aspirasi publik.
“Tagar Indonesia Gelap itu penuh dengan idealisme, bukan bayaran… Jika klaim dibuat, harus ada bukti yang kredibel,” kata Usman dalam diskusi di Universitas Indonesia.
Usman Hamid menegaskan, gerakan mahasiswa itu bukan alat koruptor, melainkan kritik sosial atas kebijakan pemerintah. Dia menyebut istilah itu merendahkan demokrasi dan aktivisme sipil.
Latar Belakang Tagar & Demo Indonesia Gelap
Pada Februari 2025, tagar #IndonesiaGelap mendadak trending di platform X (Twitter), dengan 14 juta cuitan dalam 24 jam. Aksi ini menjadi simbol protes yang menyoroti kebijakan kontroversial seperti program makan gratis (MBG) dan Inpres #1/2025 yang menyebabkan pemangkasan anggaran pendidikan dan sosial.
Gerakan ini mencuat melalui aksi mahasiswa dan masyarakat sipil, dengan tuntutan mencakup transparansi anggaran, hak pendidikan, dan akuntabilitas pemerintahan.
Perdebatan Publik: Propaganda atau Suara Nyata?
Klaim Prabowo tentang pendanaan koruptor mendapat reaksi keras dari publik dan komunitas HAM. Usman Hamid dan aktivis lain menuntut agar tuduhan dibuktikan dengan data dan transparansi, bukan sekadar retorika.
Sementara itu, Prabowo berkali-kali menegaskan bahwa koruptor tidak rela melihat Indonesia bersih dan maju—ini menjadi motivasi di balik kampanye propaganda Indonesia Gelap.
Ringkasan Dinamika Isu:
| Unsur | Ringkasan |
|---|---|
| Dituduh oleh Prabowo | Koruptor membayar buzzer dan influencer untuk menyebarkan narasi Indonesia Gelap sebagai bentuk sabotase politik |
| Dipegang oleh aktivis | Tagar ini merupakan hasil gerakan mahasiswa dan rakyat yang peduli, bukan buatan untuk mengguncang pemerintahan. |
Kesimpulan & Pertanyaan Besarnya
Tuduhan mengenai pendanaan koruptor terhadap tagar “Indonesia Gelap” tetap kontroversial dan menimbulkan dua narasi yang bertentangan: satu menyoroti propaganda digital, dan satu lagi mementingkan idealisme sipil. Poin utamanya: apakah klaim memiliki bukti konkret dan bisa dibuktikan? Hingga saat ini, kedua pihak belum menampilkan dokumen atau data publik yang dapat diverifikasi.
Tenggat Diskursus
Debat ini memperlihatkan ketegangan antara kekuasaan politik dan suara rakyat. Jika pemerintah ingin membuktikan klaimnya, publik menanti transparansi dan audit digital mengenai buzzer, kampanye media sosial, dan sumber pendanaan. Jika klaim tidak terbukti, bagaimana kepercayaan publik terhadap institusi dan legitimasi demokrasi akan terjaga?
