Jakarta, 23 Juli 2025 — Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus menjadi perhatian dunia. Sejumlah lembaga internasional dan PBB melaporkan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling terdampak dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok bersenjata Palestina.
Sejak konflik berskala besar meletus pada Oktober 2023, dilaporkan lebih dari 17.000 anak meninggal dunia, sementara lebih dari 1 juta lainnya menghadapi ancaman kelaparan akut.
Data Kematian Anak yang Meningkat
Laporan dari organisasi hak asasi manusia dan badan PBB menyebutkan bahwa dalam kurun lebih dari satu tahun terakhir, anak-anak di Gaza mengalami dampak paling serius. Serangan udara yang menyasar kawasan padat penduduk, termasuk sekolah dan rumah sakit, menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian.
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebutkan, hingga pertengahan Juli 2025, lebih dari 15.000 anak telah teridentifikasi sebagai korban meninggal. Sebagian besar korban berusia di bawah 15 tahun. Pihak PBB juga menyebut bahwa angka ini kemungkinan lebih tinggi karena banyak korban belum terdata secara resmi.
Ancaman Kelaparan dan Krisis Gizi
Selain korban jiwa, lebih dari 1 juta anak di Gaza mengalami kerawanan pangan akut. UNICEF dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa Gaza saat ini berada di ambang kelaparan massal (famine), dengan ratusan ribu anak mengalami gizi buruk, serta ribuan lainnya mengalami malnutrisi berat yang mengancam jiwa.
Blokade atas bantuan kemanusiaan, terbatasnya pasokan makanan, dan hancurnya infrastruktur kesehatan menjadi penyebab utama krisis ini. UNICEF dan WHO menyampaikan bahwa bayi dan ibu menyusui merupakan kelompok paling rentan.
Korban Saat Mengakses Bantuan
PBB melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat bahwa setidaknya 1.000 warga sipil, termasuk anak-anak, tewas saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan sejak Mei 2025. Insiden ini terjadi di sekitar lokasi distribusi makanan dan konvoi bantuan, yang rentan terhadap serangan.
Kecaman Internasional dan Imbauan Kemanusiaan
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Ia meminta agar semua pihak segera menghentikan kekerasan dan membuka jalur kemanusiaan seluas-luasnya. Guterres menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh menjadi korban konflik bersenjata.
Beberapa negara anggota Dewan Keamanan PBB telah mendesak diadakannya penyelidikan independen atas kemungkinan pelanggaran hukum humaniter internasional, termasuk indikasi penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, yang dilarang Konvensi Jenewa.
Tanggung Jawab Semua Pihak
Pakar hubungan internasional dari LIPI, Dr. Rina Ayu Kartika, menilai bahwa krisis di Gaza merupakan tantangan global. “Situasi ini membutuhkan solidaritas kemanusiaan lintas batas. Ketika anak-anak menjadi korban utama, dunia perlu bersikap lebih tegas untuk menghentikan kekerasan dan memperkuat diplomasi kemanusiaan,” ujarnya.
Kondisi anak-anak di Gaza mencerminkan tragedi kemanusiaan yang mendalam. Kematian ribuan jiwa muda dan potensi hilangnya satu generasi akibat krisis gizi menuntut perhatian dunia. Dalam semangat kemanusiaan, perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas utama — tanpa syarat politik, tanpa penundaan.
