Jakarta, HarianJabar.com— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap bahaya polusi udara yang kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak-anak hingga lansia. Paparan polutan—terutama partikel PM2.5—dapat memicu berbagai penyakit pernapasan dan kardiovaskular, serta meningkatkan risiko komplikasi pada kelompok rentan seperti ibu hamil, anak, penderita penyakit kronis, dan lansia.
Menurut Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, kualitas udara yang buruk—baik di dalam maupun luar ruangan—dapat meningkatkan kasus ISPA, asma, bahkan penyakit jantung. Bagi lansia, paparan polusi udara berpotensi meningkatkan risiko stroke, bronkitis kronis, kerusakan DNA, dan gangguan paru-paru. Bagi bayi dan ibu hamil, risiko meliputi berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, serta kelainan seperti cacat tabung saraf.
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
Strategi Pencegahan: 6M + 1S
Kemenkes merekomendasikan penerapan protokol 6M dan 1S sebagai upaya perlindungan kesehatan:
- Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau situs resmi
- Mengurangi aktivitas luar ruang saat polusi tinggi dan menutup ventilasi
- Menggunakan air purifier di dalam ruangan
- Menghindari asap rokok dan sumber polutan lainnya
- Memakai masker (seperti KN95 atau KF94) ketika berada di luar ruangan
- Menjalankan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)
- Segera konsultasi ke layanan kesehatan bila ada gejala gangguan pernapasan.
Rekomendasi Masker & Langkah Praktis
Kemenkes menyarankan penggunaan masker jenis KN95 atau KF94 saat tingkat polusi tinggi, karena efektif menahan partikel berukuran PM2.5 yang dapat masuk hingga saluran pernapasan bawah. Masker ini direkomendasikan khusus bagi anak-anak, lansia, dan kelompok berisiko lain.
Selain itu, orang tua dianjurkan memastikan anak memiliki asupan gizi kaya antioksidan untuk memperkuat daya tahan tubuh serta membatasi aktivitas luar ruang saat kualitas udara buruk.
Kenali Risiko & Gejala Awal
Kelompok rentan seperti anak-anak sering menunjukkan gejala awal karena polusi: batuk, sesak napas, mata berair, hidung tersumbat. Bila muncul, segera melakukan konsultasi ke fasilitas kesehatan.
Data surveilans di Jakarta menunjukkan tren kenaikan ISPA dan pneumonia di area dengan kualitas udara memburuk, yang mayoritas tercatat di kelompok anak-anak dan lansia.
Kewaspadaan Tinggi Bukan Panik
Polusi udara memang nyata dan dapat berdampak luas—bukan hanya pada saluran pernapasan, tetapi juga sistem jantung, darah, dan fungsi tubuh lainnya. Namun, dengan mengikuti panduan Kemenkes dan menerapkan protokol pencegahan sederhana seperti masker pelindung, penjernih udara, serta pola hidup sehat, masyarakat dapat mengurangi risiko dampaknya dengan signifikan.
