Cimahi, HarianJabar.com – 2 Agustus 2025 | Kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi persoalan serius di Kota Cimahi. Meskipun sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah, angka kasus tetap memprihatinkan. Banyak di antaranya tidak terungkap karena korban dan keluarganya memilih diam.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi mencatat, hingga pertengahan 2025, belasan anak menjadi korban kekerasan seksual. Sebagian besar pelaku berasal dari lingkungan dekat korban, seperti keluarga, tetangga, atau orang yang dipercaya.
“Kita masih menghadapi fenomena gunung es. Banyak kasus yang tidak dilaporkan karena rasa takut, malu, dan tekanan sosial. Ini yang jadi tantangan besar,” ujar Kepala DP3AP2KB Cimahi.
Korban Takut, Pelaku Merasa Aman
Salah satu penyebab mengapa angka kekerasan seksual sulit ditekan adalah minimnya laporan dari keluarga korban. Banyak orang tua enggan melapor karena takut aib keluarga tersebar, atau karena pelakunya adalah figur otoritas di lingkungan korban.

“Kami ingin membangun budaya berani bicara. Ketika korban dan keluarga diam, pelaku bisa melenggang tanpa pertanggungjawaban hukum, dan korban semakin terluka secara psikologis,” kata seorang psikolog pendamping anak di Cimahi.
DP3AP2KB bersama kepolisian dan LSM lokal terus mendorong pendekatan dari pintu ke pintu, termasuk melalui posyandu, forum RT, dan sekolah-sekolah, untuk meningkatkan kesadaran soal pentingnya pelaporan kekerasan seksual, terutama yang menimpa anak-anak.
Dampak Panjang Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual bukan hanya berdampak secara fisik. Anak-anak korban umumnya mengalami trauma berat, gangguan tumbuh kembang, hingga kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan.
“Kalau tidak ada penanganan tepat, luka batin anak bisa terbawa sampai dewasa. Ini bukan sekadar soal hukum, tapi masa depan anak,”, dari lembaga perlindungan anak di Jawa Barat.
Harapan dan Seruan Terbuka
Pemerintah Kota Cimahi mengajak seluruh masyarakat, khususnya orang tua, untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan jangan ragu meminta bantuan jika menemukan tanda-tanda kekerasan.
“Kami siap mendampingi. Ada layanan gratis, ada ruang aman, dan kami pastikan korban mendapat perlindungan penuh,” tegas Kepala DP3AP2KB.
Sudut Pandang Menarik: Berani Bicara, Bentuk Perlindungan Terbesar
Alih-alih menyoroti kasus demi kasus, berita ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa keberanian bicara bukan berarti membuka aib, tapi justru menyelamatkan generasi. Pelaporan bukan akhir dari tragedi, melainkan awal dari pemulihan.
