Ankara, Harianjabar.com – Pemerintah Turki menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan seorang menteri Israel yang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa dan melakukan ritual ibadah di dalamnya pada akhir Mei lalu. Langkah tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap status quo keagamaan dan berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut di kawasan Yerusalem Timur.
Dalam pernyataan resminya pada 3 Agustus 2025, Kementerian Luar Negeri Turki menyebut insiden tersebut sebagai bentuk provokasi dan seruan terbuka untuk mengubah tatanan historis yang selama ini dijaga di kawasan suci tiga agama itu.
“Tindakan tersebut tidak hanya mencederai kesucian Masjid Al-Aqsa, tetapi juga mengabaikan kewajiban internasional yang mengatur status tempat suci di Yerusalem,” tegas pernyataan Kemlu Turki yang dikutip dari kantor berita Anadolu.
Kronologi Kejadian
Insiden terjadi pada 26 Mei 2025, ketika Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir bersama sejumlah pendukungnya memasuki area Masjid Al-Aqsa. Mereka berada di lokasi dalam waktu singkat sambil mengibarkan bendera Israel dan melakukan ritual keagamaan Yahudi, yang menurut otoritas Palestina dan negara-negara Islam lainnya, bertentangan dengan ketentuan internasional.
Langkah ini dilakukan di tengah penjagaan ketat kepolisian Israel dan disaksikan oleh puluhan warga serta aktivis yang menyampaikan penolakan.

Reaksi Internasional
Kecaman dari Turki muncul di tengah menguatnya perhatian dunia terhadap situasi di Yerusalem, terutama terkait meningkatnya ketegangan antara warga Palestina dan aparat keamanan Israel. Turki menyerukan kepada komunitas internasional, termasuk PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk menindaklanjuti insiden ini secara serius dan mendorong penegakan kembali status quo historis Al-Aqsa.
“Kepedulian terhadap Al-Aqsa bukan hanya urusan politik atau teritorial, tetapi menyangkut tanggung jawab moral umat manusia terhadap warisan keagamaan,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.
Perspektif Jurnalistik: Menjaga Keseimbangan dan Fakta
Dalam melaporkan isu sensitif ini, penting untuk menjunjung asas praduga tak bersalah, tidak menghakimi tindakan individu tanpa proses hukum, serta menghindari penggunaan istilah provokatif yang dapat memperkeruh situasi.
Meski demikian, fakta bahwa Masjid Al-Aqsa adalah salah satu situs paling sensitif di dunia menjadikan setiap tindakan yang menyimpang dari konsensus internasional di tempat itu sebagai isu yang sangat politis dan berdampak luas.
Konteks: Al-Aqsa dan Status Quo
Masjid Al-Aqsa, yang berada di kawasan Haram al-Sharif atau Temple Mount, merupakan situs suci bagi umat Islam dan juga dianggap suci oleh umat Yahudi. Berdasarkan kesepakatan internasional, umat Yahudi diizinkan mengunjungi lokasi tersebut, tetapi tidak melakukan ibadah ritual di dalamnya, demi menjaga ketegangan antarumat beragama.
Ringkasan
| Aspek | Informasi Utama |
|---|---|
| Tanggal Kejadian | 26 Mei 2025 |
| Pelaku | Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel |
| Lokasi | Kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur |
| Respon Turki | Kecaman resmi, seruan internasional, desakan hormati status quo |
| Implikasi Diplomatik | Berpotensi memperburuk ketegangan Palestina–Israel & memicu krisis regional |
