Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,12 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal II tahun 2025. Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan kuartal I 2025 yang tercatat sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebutkan bahwa peningkatan ini didorong oleh tingginya konsumsi rumah tangga selama periode libur panjang nasional, termasuk hari besar keagamaan dan libur sekolah.
“Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan sebesar 5,22 persen dan menyumbang 54,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” ujar Amalia dalam konferensi pers, Senin (5/8).
Selama periode April hingga Juni 2025, masyarakat menikmati beberapa hari libur nasional seperti Idulfitri, Waisak, Hari Raya Idul Adha, serta liburan sekolah. Momentum ini mendorong belanja masyarakat, khususnya pada sektor makanan, minuman, transportasi, dan akomodasi.
Peningkatan mobilitas juga tercermin dari meningkatnya permintaan terhadap jasa transportasi dan restoran, serta pembelanjaan melalui platform e-commerce.

Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan juga ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, yang tumbuh sebesar 6,99 persen. Investasi dalam sektor konstruksi dan pembelian barang modal mengalami peningkatan signifikan.
Di sisi lain, ekspor barang dan jasa tumbuh 10,67 persen, mencerminkan peningkatan permintaan global terhadap komoditas Indonesia, terutama ekspor nonmigas.
Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sebesar 1,13 poin terhadap pertumbuhan nasional. Selain itu, sektor perdagangan, jasa transportasi dan logistik, serta informasi dan komunikasi juga menunjukkan kinerja positif.
Sektor jasa lainnya, yang mencakup kegiatan rekreasi dan hiburan, mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,31 persen, dipicu oleh peningkatan aktivitas wisata selama libur panjang.
Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, sejumlah pihak mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap risiko ketidakpastian global dan domestik. Asosiasi pengusaha menyoroti masih lemahnya konsumsi kelompok menengah bawah serta tekanan terhadap sektor manufaktur.
BPS juga mencatat adanya kontraksi pada komponen pengeluaran pemerintah sebesar 0,33 persen, yang menunjukkan perlunya strategi belanja negara yang lebih efektif di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen menjadi sinyal positif pemulihan. Meskipun libur panjang menjadi pemicu utama peningkatan konsumsi, keberlanjutan pertumbuhan tetap memerlukan dukungan sektor investasi, ekspor, dan reformasi struktural ekonomi jangka panjang.
