Tasikmalaya, HarianJabar.com 13 Agustus 2025 — Kenaikan inflasi nasional belakangan ini mulai terasa langsung di dapur masyarakat kecil, termasuk warga di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Sejumlah warga mengaku terhimpit beban hidup akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, sementara penghasilan tidak ikut naik.
Ditemui di Pasar Cikurubuk, Yani (42), seorang ibu rumah tangga, mengaku harus memutar otak agar tetap bisa menyajikan makanan untuk keluarganya.

“Cabai sekarang sampai Rp80 ribu sekilo, padahal biasanya cuma Rp40 ribu. Minyak juga naik. Kami bingung, penghasilan suami nggak berubah,” kata Yani saat diwawancara.
Inflasi Dorong Harga Kebutuhan Pokok Melonjak
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, tingkat inflasi nasional per Juli 2025 tercatat mencapai 4,3% secara tahunan (year-on-year). Di daerah Priangan Timur, termasuk Tasikmalaya, kenaikan harga paling terasa terjadi pada komoditas pangan seperti beras, cabai, telur ayam, dan minyak goreng.
Heri (37), seorang pengemudi ojek online, juga mengeluhkan kondisi yang sama. Jumlah orderan menurun, sementara biaya hidup terus meningkat.
“Sekarang sehari cuma dapat 3–4 order. Susah cari penumpang. Tapi bensin naik, harga makan naik, sekolah anak juga makin mahal,” ujarnya.
Kebutuhan Hidup vs Penghasilan Harian
Warga kelas pekerja harian dan informal menjadi kelompok yang paling terdampak. Beberapa dari mereka kini mulai mengurangi konsumsi, menunda belanja bulanan, bahkan mengandalkan pinjaman online untuk bertahan hidup.
Lilis, seorang pedagang warung kecil, mengaku tak bisa lagi stok barang dalam jumlah banyak.
“Modal makin besar, tapi pembeli makin sedikit. Kalau terus begini, bisa-bisa tutup warung,” katanya.
Pemerintah Daerah Diminta Hadir Lebih Nyata
Sejumlah warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dan pusat, seperti bantuan sosial yang tepat sasaran, pengawasan harga pasar, dan dukungan UMKM agar ekonomi masyarakat kecil tetap bergerak.
“Kami tidak butuh janji, kami butuh solusi nyata,” ujar tokoh masyarakat setemp
