Jakarta, HarianJabar.com 13 Agustus 2025 — Meski pandemi COVID-19 telah berakhir secara status darurat, dampaknya belum benar-benar usai. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat soal Long Covid, sindrom berkepanjangan yang masih dialami sebagian penyintas COVID-19 hingga berbulan-bulan setelah sembuh.
Dalam hasil kajian terbaru, disebutkan bahwa sekitar 20–30% penyintas COVID-19 di Indonesia berisiko mengalami gejala jangka panjang, mulai dari keluhan fisik, mental, hingga gangguan fungsi organ.

Apa Itu Long Covid?
Long Covid adalah kondisi ketika seseorang mengalami gejala sisa setelah dinyatakan negatif COVID-19 selama lebih dari 4 minggu. Menurut peneliti BRIN, dr. Endah Suharti, gejala yang umum meliputi:
- Kelelahan ekstrem
- Sesak napas
- Nyeri otot atau sendi
- Gangguan konsentrasi (“brain fog”)
- Gangguan tidur
- Detak jantung tidak normal
- Cemas dan depresi
“Long Covid bisa menyerang siapa saja, termasuk orang yang sebelumnya hanya mengalami gejala ringan saat terinfeksi,” ujar Endah dalam diskusi kesehatan BRIN, Selasa (12/8).
Risiko Jangka Panjang yang Tidak Boleh Diabaikan
Peneliti juga menyoroti bahwa Long Covid dapat memengaruhi kualitas hidup dalam jangka panjang, terutama jika menyerang organ vital seperti paru-paru, jantung, hingga otak. Dalam beberapa kasus, pasien bahkan mengalami penurunan fungsi kognitif dan produktivitas kerja.
“Ini bukan sekadar gejala sisa. Ini kondisi klinis yang nyata dan perlu penanganan medis,” tambah Endah.
BRIN Lakukan Studi Lanjut
BRIN saat ini tengah melakukan studi longitudinal untuk memetakan lebih lanjut prevalensi Long Covid di Indonesia. Hasil riset ini nantinya akan digunakan untuk menyusun pedoman nasional penanganan pasca-COVID, termasuk intervensi berbasis layanan primer dan kesehatan mental.
Pentingnya Deteksi Dini dan Rehabilitasi
Pemerhati kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini dan program rehabilitasi untuk penyintas COVID-19 yang merasakan gejala berkepanjangan. Masyarakat juga disarankan untuk:
- Tidak mengabaikan gejala meski sudah dinyatakan negatif
- Rutin berkonsultasi ke fasilitas kesehatan
- Mengatur pola hidup sehat pascapandemi
“Pandemi boleh reda, tapi dampaknya masih terasa. Long Covid adalah pengingat bahwa kesehatan tak bisa dipulihkan dalam semalam.”
