Sukabumi, HarianJabar.com — Pagi itu, hanya tinggal sepi yang menemani L, gadis muda asal Sukabumi, saat ia terbangun di kamar penginapan dalam bentuk kebingungan sekaligus sesak hati. Motor yang biasa melindunginya di jalanan, dua ponsel yang menyimpan potongan kisah hidupnya, hingga sedikit uang di saku—semuanya hilang tak berbekas.
Segalanya bermula dari “rayuan” yang manis dan janji manis via aplikasi kencan. Ia bertemu dengan seorang pria yang baru pertama kali dikenalnya. Di tengah turunnya hujan, L dan si pria memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di kawasan wisata Citepus—hanya berdua, tanpa firasat buruk yang terlintas di benaknya. Hasilnya?

1. Rayuan yang Berujung Kehilangan
Hanya dalam semalam, L yang mengira sudah menemukan teman, malah kehilangan segalanya. Dia tidur dengan tenang, bangun dengan keadaan terbalik. Motor raib, dua ponsel, bahkan uang di dalam jok motor ikut lenyap—dipercaya dibawa kabur oleh pria yang baru dikenalnya itu. Tragisnya, pelaku tampak tahu betul cara mengelabui: ramah, tampil aman, memberi teman-teman L uang dan perhatian—hingga tak satu pun curiga.
2. Bukti Identitas Diduga Buat Celaka
Ironisnya, “kelalaian” pelaku justru jadi peluang. KTP asli yang digunakan untuk check-in tertinggal di meja resepsionis penginapan. Dengan KTP itu, identitas pelaku terbuka—sebagai senjata pada lembar perlawanan L menghadapi luka yang ditinggalkan.
3. Korban Percaya, Teman Tak Curiga
Menurut L, teman-temannya malah mendukung kedatangannya malam itu karena pria tersebut tampak “baik”. Mereka diberi makan, bahkan uang—menambah rasa aman kepada sosok yang ternyata hanya menunggu kesempatan. “Teman-temanku bilang, ‘orang ini aman,’” kenang L, sedih.
4. Upaya Hukum dan Harapan Pulih
L tak diam. Ia melapor ke Polres Sukabumi, berharap keadilan menjemput pelaku. Pihak kepolisian menyatakan kasus ini masih dalam penyelidikan Unit Tipidum, dan identitas pelaku kini lebih mudah dilacak berkat KTP tertinggal itu.
Narasi yang Mengusik
Kasus ini bukan hanya soal identitas yang tertinggal, tapi kepercayaan yang runtuh. Dalam hitungan jam, kehangatan perkenalan berubah jadi luka yang menyayat. Bukan hanya harta yang hilang, tapi rasa aman dan percaya—kadang butuh waktu untuk pulih. Momen seperti ini mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama saat dunia digital membuka pintu pertemuan tanpa batas, namun bisa ditutup dengan kejahatan dalam balutan keramahtamahan.
