Kuantan, HarianJabar.com 23 Agustus 2025 — Suara gemuruh jet tempur F/A-18D Hornet biasanya menjadi tanda kekuatan udara Malaysia yang menggetarkan. Namun pada malam 21 Agustus lalu, langit Kuantan menjadi saksi bisu insiden yang mengejutkan: salah satu dari delapan jet tempur legendaris milik Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) meledak tak lama setelah lepas landas, dalam misi latihan malam rutin.
Beruntung, pilot berhasil keluar dari kokpit menggunakan sistem kursi pelontar, dan segera mendapatkan pertolongan medis. Tetapi pertanyaan besar kini menggantung: apa yang menyebabkan pesawat tempur kelas dunia ini jatuh begitu dramatis?

Sosok Sang Hornet: Cepat, Tangguh, Tapi Tidak Abadi
F/A‑18D Hornet bukan jet biasa. Dirancang sebagai jet tempur multirole buatan McDonnell Douglas (kini Boeing), varian D ini adalah tipe dua kursi yang ideal untuk misi malam, penyerangan segala cuaca, dan pelatihan lanjutan. TUDM mengoperasikan delapan unit sejak 1997, dan hingga hari ini tetap menjadi tulang punggung pertahanan udara Malaysia.
Spesifikasi singkat:
- Kecepatan: Mach 1.8 (±1.900 km/jam)
- Ketinggian maksimum: ±15.000 meter
- Daya dorong: 2 mesin GE F404-GE-402 turbofan
- Persenjataan: Rudal AIM-9, AIM-120, bom pintar JDAM, dan kanon internal M61 Vulcan
- Radar: AN/APG-73, serta pod targeting ATFLIR
Dengan kemampuan tempur siang dan malam serta avionik canggih, Hornet menjadi kebanggaan udara Malaysia selama hampir tiga dekade.
Insiden Malam Hari: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Insiden terjadi sekitar pukul 20.40 malam waktu setempat, saat jet tengah menjalani sesi pelatihan malam dari pangkalan udara Kuantan. Menurut pernyataan resmi TUDM, tidak ada kontak tembak atau aktivitas militer asing di wilayah tersebut—semuanya murni latihan internal.
Namun, tak lama setelah lepas landas, jet tersebut mengalami anomali teknis, memicu ledakan besar di udara. Pilot sempat melakukan manuver darurat sebelum akhirnya keluar dari kokpit dan mendarat dengan parasut.
TUDM segera mengevakuasi area dan membentuk tim investigasi. Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Anwar Ibrahim sendiri memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan audit seluruh armada Hornet. Dalam waktu 24 jam, TUDM resmi mengandangkan semua unit F/A‑18D hingga hasil penyelidikan keluar.
Usia Senjata dan Risiko Nyata di Langit
Usia jet F/A-18D Malaysia kini memasuki 28 tahun. Meski terus menjalani upgrade avionik dan sistem senjata, usia struktur pesawat tetap menjadi tantangan.
Ini bukan pertama kalinya jet tua mengalami masalah teknis. Tetapi karena Malaysia belum memiliki pengganti utama untuk armada tempurnya, beban operasional tetap jatuh pada F/A-18D dan Su-30MKM yang juga menua.
Saat ini, Malaysia tengah mengurus akuisisi 30 unit F/A‑18 C/D bekas dari Kuwait, sebagai solusi jangka pendek sambil menunggu keputusan final program pengganti MRCA (Multi-Role Combat Aircraft) yang telah tertunda bertahun-tahun.
Pelajaran dari Langit: Keamanan, Modernisasi, dan Waktu yang Terbatas
Insiden ini menjadi pengingat bahwa kekuatan udara bukan sekadar soal kecepatan atau senjata canggih, tetapi juga soal kesiapan teknis, pemeliharaan, dan waktu. Jet tempur seperti Hornet memiliki batasan fisik, dan tidak ada teknologi yang abadi.
Dengan keamanan nasional sebagai taruhan, Malaysia kini dihadapkan pada keputusan sulit: terus menggantungkan diri pada armada lama, atau mempercepat pembaruan kekuatan udaranya demi menjamin keselamatan pilot dan efektivitas pertahanan.
