New York, HarianJabar.com— Kanselir Jerman, Olaf Scholz, kembali menegaskan posisi negaranya untuk tidak mengakui kemerdekaan Palestina dalam pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan diplomatik yang terus berlangsung di Timur Tengah.
Dalam pidatonya yang disiarkan secara langsung, Scholz menyatakan bahwa Jerman mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina melalui jalur negosiasi damai dan dialog bilateral, bukan melalui langkah sepihak pengakuan kemerdekaan Palestina.

“Kami percaya bahwa hanya melalui dialog konstruktif dan kompromi bersama, solusi yang adil dan lestari dapat dicapai,” kata Scholz.
Konteks Politik dan Diplomasi
Sikap Jerman ini sesuai dengan kebijakan luar negeri yang selama ini menekankan pentingnya proses perdamaian yang inklusif dan menghormati hukum internasional. Berlin juga menjadi salah satu pendukung utama solusi dua negara yang diupayakan melalui perundingan langsung antara Israel dan Palestina.
Meski demikian, sejumlah negara anggota PBB mendukung pengakuan kemerdekaan Palestina secara resmi, melihatnya sebagai langkah penting dalam mengakhiri pendudukan dan mewujudkan kedaulatan Palestina.
Reaksi Beragam di Panggung Internasional
Pernyataan Kanselir Scholz memicu reaksi beragam dari berbagai delegasi. Beberapa negara Arab dan kelompok pendukung Palestina mengecam sikap Jerman yang dianggap menghambat proses pengakuan kedaulatan Palestina.
Namun, negara-negara sekutu Eropa dan Amerika Serikat umumnya memberikan dukungan atas pendekatan yang mengedepankan dialog dan penyelesaian damai.
Keseimbangan dalam Politik Global
Analis hubungan internasional menyebut keputusan Jerman mencerminkan keseimbangan yang rumit antara dukungan terhadap hak-hak Palestina dan komitmen terhadap keamanan Israel serta stabilitas kawasan.
“Jerman berada di persimpangan antara solidaritas dengan rakyat Palestina dan hubungan strategis dengan Israel. Kebijakan ini mencerminkan pragmatisme diplomatik,” ujar Dr. Hanna Müller, pakar Timur Tengah dari Universitas Berlin.
