Bandung, HarianJabar.com –Kasus pemerkosaan Priguna bukan sekadar angka statistik atau headline yang cepat hilang dari perhatian publik. Di balik itu, ada sosok korban yang berjuang dalam sunyi, dengan suara lirih penuh luka dan harapan. Suara yang tak boleh kita abaikan.

Ketika Ketakutan Menjadi Teman Sehari-hari
Bayangkan berada di posisi mereka — korban yang tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tapi juga dihantui stigma, cemoohan, dan ketakutan yang membelenggu. Suara mereka seringkali tenggelam dalam hiruk-pikuk opini publik, atau bahkan disalahartikan.
Namun, keberanian mereka untuk berbicara adalah hal luar biasa. Ini bukan hanya soal keadilan hukum, tapi soal kemanusiaan yang harus kita jaga bersama.
Sistem Hukum: Harapan atau Mimpi yang Tertunda?
Sejauh mana sistem hukum kita benar-benar berpihak pada korban? Lambatnya proses, tekanan dari lingkungan, hingga minimnya perlindungan membuat banyak korban memilih bungkam — bukan karena mereka tidak ingin keadilan, tapi karena mereka takut.
Kasus Priguna harus menjadi cambuk bagi kita semua—aparat hukum dan masyarakat—untuk memastikan bahwa keadilan bukan sekadar kata, tapi kenyataan yang dirasakan korban.
Masyarakat: Dari Penonton Jadi Pelindung
Tidak cukup hanya menyalahkan pelaku. Kita semua punya peran besar dalam mengubah narasi ini. Mari hentikan stigma yang memperkosa hati dan jiwa korban dua kali. Mari kita menjadi pendengar yang empatik dan pendukung yang nyata.
Keadilan yang Diharapkan
Suara lirih korban Priguna adalah panggilan bangkit bagi kita semua. Keadilan bukan hanya hak, tapi kebutuhan mendesak bagi mereka yang telah terluka. Kita tidak boleh diam, tidak boleh membiarkan suara itu hilang dalam angin.
Mari bersama berjuang agar suara mereka menjadi kekuatan perubahan — keadilan yang nyata, perlindungan yang tulus, dan penghormatan yang sejati.
