Sumedang, HarianJabar.com – Kisah pernikahan dini kembali mencuat di Kabupaten Sumedang. Seorang remaja putri yang masih duduk di bangku sekolah harus merelakan masa belajarnya terhenti karena menikah di usia belia. Cerita pilu ini akhirnya sampai ke telinga Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila, yang menaruh perhatian besar pada kasus tersebut.

Pernikahan di Usia Belia
Remaja berusia 15 tahun itu disebut menikah karena faktor ekonomi dan tekanan lingkungan sekitar. Orang tuanya berharap pernikahan bisa meringankan beban keluarga. Namun, kenyataannya, kehidupan rumah tangga yang dijalani justru penuh dengan tantangan, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga ketidaksiapan mental kedua belah pihak.
“Saya sebenarnya masih ingin sekolah, tapi keadaan keluarga membuat saya nurut saja,” ujar sang remaja lirih, seperti dituturkan oleh seorang kerabat.
Reaksi Wabup Sumedang
Wabup Fajar Aldila mengaku prihatin mendengar kisah ini. Menurutnya, pernikahan dini tidak hanya merenggut hak anak untuk mengenyam pendidikan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan sosial di kemudian hari.
“Kami akan turun langsung untuk mendalami kasus ini. Pemerintah daerah berkomitmen menekan angka pernikahan dini karena dampaknya sangat serius, baik bagi anak maupun masyarakat,” tegas Fajar Aldila.
Angka Pernikahan Dini Masih Tinggi
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sumedang mencatat, kasus pernikahan dini masih cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari ekonomi, budaya, hingga kurangnya edukasi tentang risiko pernikahan dini.
Aktivis perempuan di Sumedang juga menyoroti pentingnya peran sekolah dan tokoh masyarakat untuk memberikan edukasi.
“Pernikahan dini bukan solusi dari kemiskinan. Justru bisa menambah masalah baru,” ujar salah satu aktivis.
Harapan untuk Masa Depan
Meski sudah terlanjur menikah, pemerintah daerah berupaya agar remaja tersebut tetap mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan. Wabup Fajar juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk memutus rantai praktik pernikahan dini.
“Anak-anak Sumedang harus punya mimpi besar dan kesempatan untuk meraihnya. Jangan sampai pernikahan dini mengubur masa depan mereka,” tandasnya.
Cerita pilu pernikahan dini ini menjadi cermin betapa kompleksnya persoalan sosial di masyarakat. Kehadiran pemerintah, dukungan keluarga, dan kesadaran bersama diharapkan dapat menekan praktik ini, agar anak-anak bisa tumbuh, belajar, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.
