Tasikmalaya, HarianJabar.com – Sebuah terobosan unik dilakukan Pesantren Welas Asih di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pesantren ini tengah membangun masjid ramah lingkungan yang sebagian besar material dinding dan atapnya dibuat dari 12 ton limbah plastik daur ulang.

Inovasi Hijau dari Pesantren
Pembangunan masjid ini mendapat perhatian publik karena memadukan nilai religius dengan kepedulian lingkungan. Limbah plastik yang semula menjadi masalah pencemaran, diolah menjadi material konstruksi ramah lingkungan berupa bata plastik dan panel bangunan.
“Pesantren ingin memberi teladan bahwa menjaga bumi juga bagian dari ibadah. Plastik yang biasanya dianggap sampah, ternyata bisa menjadi bahan bangunan yang kuat dan bermanfaat,” ujar pimpinan Pesantren Welas Asih, Kiai, Rabu (17/9).
Material 12 Ton Plastik Daur Ulang
Sebanyak 12 ton plastik diperoleh melalui program bank sampah pesantren, sumbangan masyarakat sekitar, serta kerja sama dengan komunitas peduli lingkungan. Plastik-plastik tersebut dipilah, dibersihkan, lalu diolah dengan teknologi daur ulang menjadi bahan bangunan.
Menurut tim teknis, material plastik daur ulang ini tahan air, ringan, dan memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan bata konvensional. Selain itu, penggunaannya mampu mengurangi emisi karbon karena menghemat produksi semen.
Ramah Lingkungan dan Edukatif
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga diharapkan menjadi pusat edukasi lingkungan bagi santri maupun masyarakat. Pesantren berencana mengadakan pelatihan pengelolaan sampah, workshop daur ulang, hingga kampanye gaya hidup hijau.
“Anak-anak santri tidak hanya belajar agama, tapi juga diajarkan mencintai alam. Harapannya, mereka kelak bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” tambah pengurus pesantren.
Dapat Dukungan Luas
Program pembangunan masjid ramah lingkungan ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan aktivis lingkungan. Banyak yang menilai inovasi ini bisa menjadi model pembangunan berkelanjutan di pesantren maupun lembaga keagamaan lainnya.
Bupati Tasikmalaya dalam kunjungannya mengatakan,
“Pesantren Welas Asih memberi contoh nyata bagaimana spiritualitas bisa berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.”
Inspirasi untuk Indonesia
Masjid berbahan plastik daur ulang ini bukan hanya solusi atas masalah sampah, tetapi juga simbol kolaborasi antara nilai agama dan kepedulian ekologi. Jika berhasil, inisiatif ini bisa direplikasi di daerah lain yang menghadapi masalah serupa dengan sampah plastik.
Pesantren Welas Asih di Tasikmalaya membangun masjid ramah lingkungan menggunakan 12 ton plastik daur ulang. Langkah inovatif ini tidak hanya menjawab persoalan sampah, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi bagi santri dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian bumi.
