Sanaa, HarianJabar.com Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel melancarkan serangan udara ke Sanaa, ibu kota Yaman, Kamis (25/9/2025). Serangan ini menewaskan delapan orang dan melukai 142 lainnya, menurut laporan Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi.

Latar Belakang Serangan
Insiden ini merupakan balasan atas serangan drone yang dilancarkan kelompok Houthi ke kota Eilat, Israel, sehari sebelumnya. Serangan drone tersebut melukai 22 orang, termasuk dua dalam kondisi serius. Analisis pihak internasional menunjukkan serangan Houthi kemungkinan mendapat dukungan Iran dan memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata Palestina.
Target dan Dampak
Serangan udara Israel menargetkan fasilitas yang diduga digunakan Houthi, termasuk markas militer, kompleks intelijen, dan pusat keamanan di Sanaa. Ledakan keras terdengar di beberapa wilayah, menciptakan kepanikan di tengah warga sipil. Tim pertahanan sipil masih berupaya mengevakuasi korban dari lokasi terdampak.
Serangan ini bukan yang pertama; pada 10 September 2025, Israel melakukan serangan serupa di Yaman yang menewaskan 46 orang dan melukai 165, termasuk 31 jurnalis.
Reaksi Internasional
Konflik ini menambah panjang daftar ketegangan antara Israel dan Houthi yang sudah berlangsung sejak serangan rudal Houthi ke Bandara Ben Gurion, Mei 2025. Ketegangan ini juga berkaitan dengan perang Gaza yang dimulai Oktober 2023, yang telah menewaskan lebih dari 65.000 orang dan memperumit hubungan regional.
Amerika Serikat mendorong upaya diplomasi melalui Sidang Umum PBB dengan mengusulkan “Rencana 21 Poin Trump”, meski respons dari negara Arab cenderung hati-hati.
Prospek Perdamaian
Meski upaya diplomatik terus dilakukan, prospek perdamaian di wilayah ini masih suram. Eskalasi serangan udara menandakan konflik yang semakin kompleks, dengan risiko korban sipil dan kerusakan infrastruktur yang terus meningkat.
