Wellington, HarianJabar.com – Peneliti di Selandia Baru menemukan bahwa beberapa sumber air minum di negara itu tercemar nitrat, bahan kimia yang bisa membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Nitrat umumnya berasal dari pupuk pertanian dan limbah ternak, yang meresap ke dalam tanah dan akhirnya mencemari air tanah.
Dr. Emily Thompson, salah satu peneliti dari Universitas Otago, menyatakan bahwa kadar nitrat di beberapa wilayah telah melebihi standar aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Kami menemukan bahwa nitrat dalam air minum bisa menyebabkan risiko kesehatan, termasuk gangguan pada bayi dan risiko penyakit kronis bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih,” ujarnya.

Dampak Kesehatan Nitrat
Nitrat sendiri dapat berubah menjadi nitrit di dalam tubuh, yang mengganggu kemampuan darah membawa oksigen. Risiko ini lebih tinggi pada bayi di bawah usia enam bulan, yang dapat mengalami kondisi dikenal sebagai ‘blue baby syndrome’.
Selain itu, paparan nitrat jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker.
Langkah Penanganan
Para peneliti menyarankan beberapa langkah untuk mengurangi risiko:
- Pengolahan air minum menggunakan sistem filtrasi untuk mengurangi kadar nitrat.
- Pengawasan kualitas air secara rutin, terutama di daerah pertanian intensif.
- Pendidikan masyarakat mengenai potensi risiko dan cara mengurangi konsumsi nitrat berlebihan.
Pemerintah Selandia Baru juga dikabarkan tengah mempertimbangkan regulasi lebih ketat terhadap penggunaan pupuk dan pengelolaan limbah ternak, guna mencegah pencemaran lebih lanjut.
Penemuan nitrat di sumber air minum Selandia Baru menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah. Upaya pengawasan, pengolahan air, dan regulasi penggunaan pupuk menjadi kunci untuk menjaga kualitas air dan kesehatan publik.
