Bekasi, Harianjabar.com — Pemerintah dan sejumlah produsen bahan bakar kini mulai memperkenalkan campuran etanol dalam bensin (BBM berbasis bioetanol) sebagai bagian dari upaya transisi energi bersih. Meski begitu, banyak masyarakat masih mempertanyakan dampak penggunaan etanol terhadap kinerja mesin kendaraan mereka.
Para ahli otomotif menilai bahwa penggunaan etanol dalam bahan bakar bisa memberikan manfaat tertentu bagi performa dan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kadar campurannya agar tidak menimbulkan efek negatif.
Apa Itu Etanol dalam BBM?
Etanol merupakan senyawa alkohol hasil fermentasi bahan nabati seperti tebu, singkong, atau jagung. Dalam sektor energi, etanol digunakan sebagai bahan campuran pada bensin untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan terhadap minyak bumi.
Bahan bakar yang mengandung etanol biasa disebut dengan istilah seperti E5, E10, atau E20, di mana angka tersebut menunjukkan persentase etanol dalam campuran bensin. Misalnya, E10 berarti mengandung 10 persen etanol dan 90 persen bensin murni.
Menurut beberapa pakar teknik mesin, etanol memiliki nilai oktan yang lebih tinggi dibanding bensin biasa, sehingga bisa membantu meningkatkan pembakaran di dalam ruang mesin. Namun, ada juga efek samping yang perlu diperhatikan.
1. Pembakaran Lebih Bersih
Etanol dapat membantu proses pembakaran menjadi lebih sempurna, sehingga mengurangi emisi gas buang dan kerak karbon pada mesin.
2. Tenaga Mesin Bisa Sedikit Turun
Kandungan energi etanol lebih rendah dibanding bensin murni. Akibatnya, pada kadar campuran yang tinggi, tenaga kendaraan bisa sedikit berkurang, meski tidak signifikan jika kadar etanol masih rendah (seperti E5 atau E10).

3. Risiko Korosi pada Komponen Lama
Etanol bersifat menyerap air (higroskopis). Jika kendaraan lama belum menggunakan sistem bahan bakar yang tahan terhadap etanol, maka komponen logam dan karet tertentu bisa mengalami korosi atau aus lebih cepat.
4. Performa Stabil pada Kendaraan Modern
Sebagian besar kendaraan keluaran baru sudah dilengkapi dengan sistem injeksi dan bahan pipa bahan bakar yang tahan terhadap campuran etanol. Karena itu, pada mobil modern, penggunaan E10 hingga E20 umumnya aman dan tidak menimbulkan masalah berarti.
Perspektif Pemerintah dan Industri
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa penggunaan bioetanol merupakan langkah penting menuju energi hijau. Selain mengurangi emisi, kebijakan ini juga diharapkan membantu petani lokal karena bahan bakunya berasal dari hasil pertanian dalam negeri.
Beberapa perusahaan seperti Pertamina juga telah melakukan uji coba Pertamax Green 95 dengan campuran etanol 5 persen (E5). Uji coba ini diklaim tidak menurunkan performa kendaraan dan bisa menjadi alternatif ramah lingkungan bagi pengguna kendaraan pribadi.
Saran untuk Pengguna Kendaraan
- Pastikan jenis bahan bakar yang digunakan sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan.
- Untuk kendaraan lama, disarankan tidak menggunakan campuran etanol di atas 10 persen.
- Jika muncul gejala seperti mesin tersendat atau konsumsi BBM meningkat, segera periksa sistem bahan bakar ke bengkel resmi.
Secara umum, penggunaan etanol dalam BBM aman bagi kendaraan modern selama kadar campurannya sesuai standar. Etanol membantu pembakaran lebih efisien dan ramah lingkungan, namun tetap memerlukan penyesuaian teknis bagi kendaraan lama.
Dengan regulasi dan edukasi yang tepat, BBM campuran etanol bisa menjadi langkah nyata menuju energi berkelanjutan di Indonesia tanpa mengorbankan performa mesin kendaraan.
