Bekasi, HarianJabar.com – Aktivis iklim dan kemanusiaan global, Greta Thunberg, kembali bersuara keras setelah dibebaskan dari tahanan Israel. Dalam pernyataan publik pertamanya di Bandara Eleftherios Venizelos, Athena, Senin (6/10/2025), perempuan 22 tahun asal Swedia ini menyoroti apa yang ia sebut sebagai genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Thunberg termasuk salah satu dari 171 aktivis yang dideportasi setelah ikut serta dalam armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Mereka ditahan oleh otoritas Israel karena berupaya menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan kemudian diterbangkan ke Yunani dan Slovakia.
Meskipun sempat mengalami perlakuan buruk di tahanan — termasuk dugaan pemukulan dan pemaksaan mencium bendera Israel — Thunberg menegaskan fokusnya tetap pada isu kemanusiaan yang lebih besar.

“Saya bisa bicara sangat panjang soal perlakuan buruk yang kami alami di penjara, percayalah. Tapi itu bukan ceritanya. Izinkan saya perjelas: ada genosida yang terjadi di depan mata kita, disiarkan langsung,” tegas Thunberg.
Ia menuding Israel “terus memperburuk dan meningkatkan genosida serta penghancuran massal mereka dengan niat memusnahkan populasi.” Thunberg juga menekankan tanggung jawab masyarakat global untuk tidak mengalihkan pandangan dari krisis di Gaza, Kongo, Sudan, Afghanistan, dan wilayah lain yang menderita akibat ketidakadilan sistemik.
“Saya tak akan pernah mengerti bagaimana manusia bisa begitu jahat. Bahwa jutaan orang sengaja dibuat terjebak dalam pengepungan ilegal, kelaparan, dan penindasan selama puluhan tahun,” tambahnya.
Melalui unggahan media sosial, Thunberg menekankan bahwa keikutsertaannya dalam armada bantuan merupakan bentuk solidaritas internasional dengan Palestina dan sorotan terhadap pelanggaran hukum internasional oleh Israel. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa negara-negara memiliki kewajiban hukum untuk menghentikan keterlibatan mereka dalam genosida, sebuah tindakan yang dikonfirmasi oleh Komisioner PBB.
