Bekasi, HarianJabar.com — Setelah sempat sepi penerbangan dan dianggap mangkrak, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati kini kembali menjadi sorotan. Bukan karena pesawat komersial, melainkan karena sukses menjadi lokasi uji coba drone listrik berkapasitas angkut hingga 150 kilogram yang dikembangkan oleh PT Mimpi Terbang Indonesia (Dreamfly Indonesia) bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok.
Bandara senilai Rp2,6 triliun yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 24 Mei 2018 itu kini mulai menapaki babak baru. Jika dulu Jokowi menyebut Kertajati sebagai bandara masa depan Indonesia, kini prediksi itu perlahan menemukan maknanya—melalui inovasi teknologi udara tanpa awak.
Dulu Dibanggakan, Kini Jadi Pusat Inovasi
Lima tahun setelah peresmian, Jokowi sempat memuji potensi besar Kertajati berkat akses strategisnya yang terhubung langsung dengan Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu). Kala itu, ia optimistis bandara tersebut akan menarik investor global.
Namun, harapan itu sempat memudar. Aktivitas penerbangan menurun, dan terminal megah di Majalengka itu nyaris tanpa pesawat komersial. Kini, secercah harapan muncul kembali melalui pengembangan teknologi drone listrik DF-L100 yang diarahkan untuk keperluan logistik komersial.
“Kami mendukung penuh kegiatan uji coba drone listrik ini dengan memastikan seluruh fasilitas bandara siap dan laik digunakan,”
ujar Executive General Manager Bandara Kertajati, Nuril Huda, di Majalengka, Senin (20/10/2025).
Menurut Nuril, Kertajati memang beberapa kali dijadikan lokasi uji penerbangan untuk riset dan pengembangan pesawat tanpa awak. Namun, kali ini dinilai berbeda karena diarahkan untuk penggunaan komersial dan efisiensi logistik nasional.
Drone Canggih Buatan Anak Bangsa
Direktur Utama Dreamfly Indonesia, Daniel Tan, menjelaskan bahwa drone DF-L100 memiliki jarak tempuh hingga 140 kilometer dengan ketinggian maksimum 5.000 meter.
“Drone ini hemat energi karena berbasis listrik dan dapat terbang otomatis menggunakan sistem kecerdasan buatan (AI). Namun, dalam kondisi darurat, kendali bisa diambil alih secara manual,” jelas Daniel.
Drone tersebut mampu membawa beban hingga 150 kilogram dan dirancang untuk mendukung distribusi logistik di wilayah terpencil, terutama daerah kepulauan yang memiliki biaya pengiriman tinggi.

“Kami ingin membantu menurunkan biaya logistik di Indonesia, khususnya di daerah seperti Nusa Penida atau pulau-pulau kecil lain yang ongkos kirimnya jauh lebih mahal,” tambahnya.
Selain sektor logistik, drone ini juga memiliki sistem modular yang dapat disesuaikan untuk berbagai misi, termasuk kerja sama dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk operasi kemanusiaan atau evakuasi.
Tahap Awal Menuju Operasi Komersial
Daniel menegaskan bahwa saat ini uji terbang masih berada dalam tahap izin operasi khusus dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Uji coba dilakukan untuk memastikan keamanan dan stabilitas sistem sebelum drone diproduksi massal.
Menariknya, Dreamfly Indonesia juga tengah menyiapkan versi drone berkapasitas angkut hingga 400 kilogram untuk pengiriman logistik antarpulau.
“Ini luar biasa karena sejauh ini belum ada drone yang bisa terbang setinggi itu dengan kapasitas muatan sebesar ini,” ungkap Daniel.
Harapan Baru untuk Kertajati
Kehadiran drone listrik di Bandara Kertajati menjadi tanda kebangkitan baru bagi infrastruktur yang sempat terbengkalai. Jika dulu bandara ini dikritik karena sepi penumpang, kini ia berpotensi menjadi pusat riset dan pengembangan teknologi penerbangan masa depan di Indonesia.
Baca Juga:
pks dukung audit deposito rp2856 t
Dengan dukungan pemerintah daerah dan kolaborasi industri teknologi, Kertajati bukan lagi sekadar simbol megaproyek, tetapi cermin inovasi dan efisiensi logistik nasional menuju Indonesia yang lebih modern.
