Bekasi, HarianJabar.com – Jalanan ibu kota Lebanon, Beirut, Senin (24/11/2025), memerah oleh amarah dan duka ketika ribuan orang memadati setiap jengkal jalan untuk mengiringi kepergian salah satu tokoh penting Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai. Pejabat militer senior itu tewas akibat serangan udara Israel yang diklaim sebagai operasi presisi pada akhir pekan lalu.
Dalam tayangan video yang tersebar luas, terlihat lautan manusia bergerak bersama dalam prosesi pemakaman. Dominasi warna kuning, identitas Hizbullah, mencolok di antara kerumunan pelayat yang meluapkan emosi. Saat peti jenazah Tabatabai diusung, suasana berubah menjadi paduan haru dan semangat perlawanan yang membara.
Massa secara serentak meneriakkan pekikan heroik sambil mengepalkan tangan ke langit, gestur yang menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan perjuangan.
Kematian Tabatabai memicu perhatian serius di kawasan Timur Tengah maupun dunia internasional. Sosok almarhum bukan figur sembarangan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui peran vitalnya, menggambarkan Tabatabai sebagai tokoh kunci kedua, hanya satu tingkat di bawah Sekretaris Jenderal Hizbullah, Nail Qassem.
“Dia adalah bagian pemimpin senior Hizbullah dan karena koneksi dan kemampuannya, dia menjabat sebagai sumber pengetahuan dan pengaruh yang signifikan dalam Hizbullah,” ungkap juru bicara IDF, dikutip dari Times of Israel. Pernyataan ini menegaskan posisi strategis dan dampak besar Tabatabai terhadap kapabilitas militer kelompok paramiliter tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tak menyangkal operasi tersebut. Ia menegaskan serangan itu merupakan langkah antisipatif untuk menggagalkan upaya Tabatabai memperkuat kemampuan tempur Hizbullah. Bagi Tel Aviv, eliminasi ini bagian dari strategi keamanan nasional.
Namun, tindakan ini menuai kecaman keras karena terjadi di tengah berlakunya gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel yang telah disepakati lebih dari setahun silam. Serangan tersebut menewaskan komandan militer sekaligus lima warga sipil dan melukai ribuan orang, memicu kekacauan baru di wilayah perbatasan.
Mengutip Xinhua, Rabu (26/11/2025), Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk keras agresi tersebut. Menurutnya, serangan berulang Israel menunjukkan ketidakpedulian Tel Aviv terhadap kedaulatan Lebanon. Fakta lapangan memperlihatkan Israel berkali-kali melanggar perjanjian gencatan senjata dengan dalih menghancurkan infrastruktur terkait Hizbullah.
Tewasnya Haytham Ali Tabatabai menjadi titik didih baru. Prosesi pemakamannya bukan sekadar ritual duka, melainkan demonstrasi politik yang menegaskan kesiapan Hizbullah merespons agresi, mengamankan perbatasan, dan mengirim sinyal kuat bahwa ketenangan kawasan Timur Tengah semakin rapuh.
