Silbolga, HarianJabar.com – Anggota Komisi V DPR RI Irmawan mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mengutamakan penanganan para pengungsi terdampak banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Menurutnya, kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan dan penanganannya belum maksimal, terutama terkait kebutuhan dasar dan perlindungan bagi kelompok rentan.
“Situasi di Aceh masih sangat memprihatinkan. Pemerintah harus hadir secara penuh untuk memastikan seluruh pengungsi mendapatkan bantuan yang layak dan segera,” ujar Irmawan dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (30/11/2025).
Ia menyebut ribuan warga kini terpaksa mengungsi dengan keterbatasan logistik, akses jalan, hingga layanan darurat. Para pengungsi juga masih dihantui kecemasan karena cuaca di sejumlah wilayah masih tidak dapat diprediksi. Kondisi ini membuat tekanan fisik dan mental warga semakin berat.
“Tekanan fisik dan mental para pengungsi ini cukup memprihatinkan sehingga dibutuhkan langkah cepat dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” tegas politisi PKB tersebut.
Irmawan menekankan bahwa pemerintah harus menempatkan keselamatan dan kebutuhan dasar pengungsi sebagai prioritas utama. Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini meliputi makanan pokok, air bersih, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, hingga pampers untuk bayi dan perlindungan bagi kelompok rentan seperti lansia dan ibu hamil.

Selain itu, Irmawan juga menyoroti banyaknya wilayah terdampak yang masih terisolasi akibat terputusnya jalan nasional. Hambatan akses ini menyebabkan distribusi bantuan menjadi tersendat. Ia mendesak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan perbaikan darurat sesegera mungkin.
“Banyak jalan nasional tertutup dan sulit dilalui. Bila dalam dua hari akses belum dibuka, dampaknya akan semakin besar bagi pengungsi. Saya minta Kementerian PU mengerahkan seluruh kemampuan untuk membuka akses dan memastikan bantuan logistik tersalurkan,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara meningkat menjadi 166 jiwa hingga Sabtu (29/11/2025). Sebanyak 143 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan tengah dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan, peningkatan jumlah korban terjadi seiring intensifnya operasi pencarian yang dipimpin Basarnas sejak status tanggap darurat ditetapkan. “Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian tim gabungan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
BNPB mencatat dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Selain korban jiwa, ribuan kepala keluarga juga terpaksa mengungsi ke berbagai titik di Tapanuli Selatan, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.
Dengan kondisi yang semakin mengkhawatirkan, berbagai pihak kini mendesak pemerintah untuk mengerahkan seluruh sumber daya nasional guna memastikan proses evakuasi, bantuan logistik, serta pembukaan akses jalan dapat berjalan cepat dan efektif.
