Jakarta, HarianJabar.com – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan bahwa kondisi inflasi nasional tetap solid dan berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Capaian ini merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter BI serta sinergi erat bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Tim Pengendalian Inflasi (TPIP–TPID).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa BI meyakini inflasi akan tetap terkendali pada 2025 hingga 2026. Menurutnya, stabilitas ini menunjukkan efektivitas langkah koordinasi lintas institusi dalam menghadapi tekanan harga global maupun domestik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (1/12), Indeks Harga Konsumen (IHK) November 2025 tercatat mengalami inflasi 0,17 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi mencapai 2,72 persen (yoy), masih berada dalam rentang yang ditetapkan.
Inflasi Inti Melandai, Dipengaruhi Harga Emas Global
Kelompok inti mencatat inflasi 0,17 persen (mtm), turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,39 persen. Faktor utama pendorongnya adalah kenaikan harga emas perhiasan, yang mengikuti peningkatan harga emas global.
Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,36 persen (yoy), stabil dibandingkan bulan Oktober yang juga berada di level 2,36 persen.
Ramdan menjelaskan bahwa terjaganya inflasi inti menunjukkan ekspektasi inflasi yang solid dan terkendali di masyarakat, sejalan dengan arah kebijakan moneter BI yang tetap ketat dan antisipatif.
Volatile Food Terkendali Meski Harga Bawang Merah Naik
Kelompok harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi 0,02 persen (mtm), relatif stabil dari bulan sebelumnya. Komoditas yang menjadi penyumbang utama adalah bawang merah, dipicu pasokan terbatas akibat gangguan cuaca serta kenaikan harga bibit.

Secara tahunan, kelompok ini mencatat inflasi 5,48 persen (yoy), menurun signifikan dari 6,59 persen pada Oktober 2025. Penurunan ini menunjukkan efektivitas penguatan program ketahanan pangan nasional serta koordinasi TPIP–TPID dalam menjaga stabilitas suplai.
Ramdan optimistis inflasi volatile food akan tetap terkendali ke depan, terutama dengan dukungan penguatan produksi dan distribusi pangan.
Administered Prices Menguat Dipicu Kenaikan Tarif Transportasi
Pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), inflasi tercatat 0,24 persen (mtm), meningkat dari 0,10 persen pada bulan sebelumnya.
Kenaikan ini terutama disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara, sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat serta naiknya harga avtur sebagai komponen biaya utama maskapai.
Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai 1,58 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan 1,45 persen pada Oktober 2025. Meski meningkat, levelnya masih tergolong terkendali dan tidak memberikan tekanan signifikan pada inflasi nasional secara keseluruhan.
Stabilitas Inflasi Tetap Menjadi Fokus Utama
BI menegaskan akan terus memantau dinamika global dan domestik, termasuk harga komoditas dunia, kondisi cuaca, serta pola konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun.
Dengan koordinasi yang kuat bersama pemerintah, BI optimistis inflasi 2025 dan 2026 akan tetap berada pada sasaran. Stabilitas harga ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional.
Artikel ini memperlihatkan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya produk kebijakan moneter, tetapi juga hasil sinergi lintas sektor yang solid dan berkelanjutan.
