Jakarta, HarianJabar.com – Di pusat ibu kota Uzbekistan, Tashkent, sebuah momentum penting bagi perdamaian dan identitas peradaban dunia tercipta. Lebih dari 300 ilmuwan, sejarawan, dan tokoh kebudayaan dari seluruh Asia Tengah dan Azerbaijan berkumpul dalam Kongres Internasional “Central Asia: A Common Spiritual and Educational Heritage – A Common Future” pada pertengahan November 2025. Pertemuan besar ini menjadi panggung lahirnya kolaborasi baru sekaligus seruan mendesak bagi stabilitas global.
Diselenggarakan oleh Center for Islamic Civilization, hajatan internasional ini bukan sekadar forum akademik. Ia menjadi diplomasi budaya yang menjembatani bangsa-bangsa dalam merumuskan masa depan warisan spiritual dan pendidikan kawasan. Hasilnya pun konkret: lebih dari 10 Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani, menandai dimulainya kerja sama riset, konservasi, dan pertukaran budaya yang lebih erat.
Seruan Perdamaian dari Presiden Mirziyoyev
Kongres dibuka oleh Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, yang pidatonya langsung menegaskan urgensi perdamaian di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan.
“Di masa yang sangat sulit ini, tugas kita yang paling mendesak adalah memelihara perdamaian,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya ilmu pengetahuan, pemahaman sejarah, dan dialog budaya sebagai benteng pertahanan paling efektif menghadapi gejolak global. Seruan tersebut mendorong para delegasi untuk menyusun rancangan resolusi bagi Majelis Umum PBB. Resolusi itu bertujuan mengakui kontribusi besar peradaban Islam Asia Tengah terhadap pendidikan, ilmu pengetahuan, hingga perkembangan budaya dunia.

Center for Islamic Civilization: Benteng Budaya Baru
Kongres ini juga menjadi momentum pengenalan Center for Islamic Civilization, kompleks budaya dan ilmiah modern yang akan dibuka untuk publik pada Maret 2026. Bangunan ikonik dengan kubah setinggi 65 meter ini menawarkan:
- Museum utama seluas 15.000 meter persegi
- Laboratorium restorasi dan digitalisasi modern
- Perpustakaan dengan lebih dari 200.000 publikasi unik
- Ruang kerja organisasi internasional
- Lokasi strategis berdampingan dengan Masjid bersejarah Hazrati Imam
Salah satu momen paling penting adalah pemindahan Mushaf Utsmani, salah satu manuskrip Alquran tertua yang diakui UNESCO, dari Museum Madrasah Muyi Mabrook ke kompleks baru tersebut. Langkah ini menegaskan komitmen Uzbekistan dalam merawat dan mendokumentasikan khazanah ilmiah Islam.
Strategi Nyata untuk Masa Depan Warisan Spiritual
Selama tiga hari pertemuan, peserta kongres membahas berbagai strategi praktis untuk pelestarian warisan sejarah dan spiritual. Diskusi meliputi:
- Konservasi manuskrip klasik
- Digitalisasi arsip kuno
- Penguatan diplomasi budaya lintas negara
- Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk riset humaniora
- Perluasan kerja sama pendidikan lintas kawasan
Kongres juga mendukung penuh Kelajak Merosi International Award, sebuah penghargaan baru yang digagas Presiden Mirziyoyev untuk mengapresiasi individu atau organisasi yang berjasa dalam melestarikan nilai-nilai ilmiah dan spiritual Asia Tengah serta Azerbaijan.
Direktur Center for Islamic Civilization, Firdavs Abdukhalikov, menegaskan bahwa Asia Tengah adalah titik tolak pemikiran ilmiah yang memadukan pengetahuan murni dengan nilai keagamaan. Semangat itu, katanya, kini dihidupkan kembali untuk membangun masa depan bersama yang lebih damai dan beradab.
Kongres Internasional ini bukan hanya dialog lintas budaya, melainkan upaya nyata membangun jembatan peradaban—dari sejarah yang agung menuju masa depan yang inklusif dan penuh harapan.
