Yaman, HarianJabar.com – 1 September 2025 — Situasi politik dan keamanan di Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerbu kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di ibu kota Sanaa, Senin (1/9). Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kabar tewasnya Perdana Menteri Yaman, Ghaleb Al-Mutlaq, dalam serangan udara yang diduga dilakukan oleh Israel.
Kantor PBB Jadi Sasaran Amarah
Menurut laporan media lokal dan sejumlah saksi mata, puluhan anggota Houthi bersenjata mengepung dan menerobos masuk ke dalam kantor PBB sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Mereka menuntut PBB segera mengutuk tindakan Israel dan mengambil langkah nyata terhadap apa yang mereka sebut sebagai “agresi terhadap kedaulatan Yaman”.

“Kami tidak akan tinggal diam ketika pemimpin kami dibunuh, dan dunia hanya menonton,” teriak salah satu komandan lapangan Houthi yang terekam dalam video amatir yang beredar luas di media sosial.
PM Ghaleb Tewas di Sanaa, Israel Dituding Dalang
Perdana Menteri Ghaleb Al-Mutlaq dilaporkan tewas dalam serangan drone presisi yang menghantam konvoi kendaraan resminya di pinggiran Sanaa pada Minggu malam. Belum ada pernyataan resmi dari Israel, namun otoritas Houthi secara terbuka menuding Tel Aviv berada di balik serangan tersebut.
Ghaleb dikenal sebagai sosok nasionalis yang memiliki hubungan kompleks dengan Iran dan kerap mengkritik kebijakan luar negeri Barat dan Israel di Timur Tengah.
PBB: Serangan Tidak Dapat Dibenarkan
PBB melalui juru bicaranya, Stéphane Dujarric, mengecam keras penyerbuan kantor mereka di Sanaa. Ia menegaskan bahwa fasilitas dan personel PBB harus dilindungi dalam kondisi apa pun, dan kekerasan terhadap lembaga internasional tidak dapat dibenarkan.
“Kami memahami kemarahan yang muncul akibat insiden tragis ini, namun menyerang kantor PBB tidak akan menyelesaikan masalah, justru memperburuk situasi kemanusiaan di Yaman,” kata Dujarric dalam konferensi pers di New York.
Ketegangan Regional Meningkat
Insiden ini menambah panjang daftar konflik yang melibatkan Israel dan aktor non-negara di Timur Tengah, serta memperburuk ketegangan regional. Iran menyebut serangan terhadap PM Ghaleb sebagai bentuk “terorisme negara” dan menyerukan sidang darurat di Dewan Keamanan PBB.
Sementara itu, Amerika Serikat menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
