Jakarta, HarianJabar.com 4 September 2025 — Tokoh nasional sekaligus pengusaha senior, Hashim Djojohadikusumo, mendorong agar pemerintah—khususnya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud)—lebih serius berinvestasi dalam penguatan budaya dan identitas bangsa. Hal ini disampaikannya dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Budaya sebagai Pilar Kedaulatan Nasional”, yang digelar di Jakarta, Rabu (4/9).
Dalam pandangannya, budaya tidak hanya soal seni dan tradisi, tapi juga merupakan fondasi kekuatan nasional di tengah gempuran globalisasi dan arus budaya asing yang semakin masif.

“Kalau kita tidak memperkuat budaya kita sendiri, generasi muda akan tumbuh tanpa akar. Kemenbud perlu berpikir ke depan, bukan hanya melestarikan, tapi juga membangun ekosistem budaya yang hidup dan relevan,” ujar Hashim.
Ajakan untuk Tidak Sekadar Seremonial
Hashim menggarisbawahi bahwa selama ini, banyak program kebudayaan yang bersifat simbolik atau seremonial semata. Ia menilai sudah saatnya Kemenbud menyusun strategi investasi jangka panjang dalam sektor budaya—mulai dari pendanaan seni lokal, revitalisasi situs sejarah, hingga integrasi budaya ke dalam pendidikan.
“Kita butuh keberpihakan nyata. Bukan hanya festival budaya, tapi dana abadi untuk seniman, riset budaya, kurikulum pendidikan berbasis kearifan lokal, hingga platform digitalisasi warisan budaya,” tambahnya.
Mendorong Keterlibatan Swasta dan Generasi Muda
Dalam kesempatan itu, Hashim juga mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mendukung pengembangan budaya nasional. Menurutnya, budaya bisa menjadi sektor yang produktif secara ekonomi bila dikelola secara kreatif dan profesional.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai pelaku sekaligus penjaga nilai-nilai budaya Indonesia.
“Kita tidak bisa hanya andalkan pemerintah. Swasta juga harus turun tangan. Budaya bisa jadi sumber daya ekonomi kreatif yang tak kalah dari sumber daya alam,” ucapnya.
Respons Akademisi dan Praktisi Budaya
Pernyataan Hashim mendapat sambutan positif dari para akademisi dan pelaku seni yang hadir dalam diskusi tersebut. Budayawan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet menyebut dorongan tersebut sebagai “angin segar” yang diharapkan dapat menggugah kementerian terkait untuk lebih progresif.
“Kita sering bicara budaya dengan cara yang pasif. Yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan afirmatif—dan investasi yang dimaksud Pak Hashim bisa jadi jalan ke sana,” ujarnya.
Penutup: Budaya Bukan Hanya Warisan, Tapi Aset Masa Depan
Dorongan Hashim Djojohadikusumo kepada Kemenbud menjadi sinyal penting bahwa budaya harus dipandang sebagai aset strategis, bukan sekadar warisan. Di era globalisasi dan disrupsi digital, budaya dapat menjadi kekuatan lunak (soft power) bangsa jika dikelola secara inovatif dan berkelanjutan.
Langkah ke depan tergantung pada keseriusan semua pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—dalam merancang investasi budaya sebagai bagian dari pembangunan nasional.
