Garut, HarianJabar.com 4 September 2025 — Kasus penganiayaan yang melibatkan dua remaja perempuan kembali menjadi perhatian publik setelah seorang pelaku berinisial Mita diduga melakukan kekerasan fisik terhadap temannya sendiri. Kejadian ini bermula dari tuduhan pelecehan yang membuat Mita emosi dan melakukan aksi kekerasan.

Peristiwa ini terjadi di sebuah kawasan perumahan Selasa malam (2/9). Menurut keterangan saksi, Mita diduga memukul hingga menggunduli rambut temannya yang berusia 16 tahun sebagai bentuk balas dendam atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Kronologi Singkat Kejadian
Menurut laporan polisi yang diterima media, peristiwa bermula saat Mita merasa difitnah oleh temannya yang menuduhnya terlibat dalam praktik prostitusi. Merasa sangat tersinggung dan tidak terima dengan tuduhan tersebut, Mita lantas melampiaskan kemarahannya dengan melakukan penganiayaan.
Saksi mata yang enggan disebutkan namanya mengatakan:
“Awalnya cuma adu mulut, tapi tiba-tiba Mita marah dan langsung menyerang. Rambut korban sampai dicabut dan digunduli,” ujarnya.
Respon dari Pihak Berwajib
Polisi sektor Jakarta Timur segera menindaklanjuti laporan penganiayaan ini. Pelaku Mita sudah diamankan untuk dimintai keterangan lebih lanjut, sementara korban mendapatkan perawatan medis di rumah sakit terdekat.
Kapolsek Jakarta Timur, Kompol Sari Dewi, menyatakan:
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak main hakim sendiri dan segera laporkan apabila ada masalah. Proses hukum akan berjalan sesuai aturan.”
Pendekatan Medis dan Psikologis untuk Korban dan Pelaku
Selain penanganan hukum, pihak kepolisian bersama Dinas Sosial dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) akan memberikan pendampingan psikologis bagi korban dan pelaku guna menghindari dampak trauma lebih lanjut.
Berimbang dan Mengedepankan Perlindungan Anak
Dalam pemberitaan kasus ini, media mengedepankan prinsip perlindungan anak dan menghindari penggunaan bahasa yang memojokkan atau menyudutkan kedua belah pihak, mengingat keduanya masih di bawah umur.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi dan penyelesaian masalah tanpa kekerasan, serta perlunya peran keluarga dan lingkungan dalam membimbing remaja agar mampu mengelola konflik secara sehat.
Pihak kepolisian mengimbau agar masyarakat mendukung proses hukum dan menghindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi untuk mencegah stigma sosial.
