Pangandaran, HarianJabar.com – Di tengah riuh rendah wisata Pantai Pangandaran yang tak pernah sepi pengunjung, ada suara khas yang begitu akrab di telinga: bunyi uap mengepul dari panci kecil penjual kue putu. Suara itu datang dari gerobak sederhana milik Reza (32), seorang pedagang kue putu keliling yang menggantungkan hidupnya dari jajanan tradisional legendaris tersebut.
Setiap sore, Reza mendorong gerobaknya menyusuri jalan-jalan utama Pangandaran. Bau harum kelapa parut dan gula merah dari kukusan kue putu kerap memikat wisatawan maupun warga lokal.

“Putu ini warisan dari orang tua saya. Dulu bapak yang jualan, sekarang saya teruskan,” kata Reza sambil tersenyum.
Awal Mula Berjualan
Reza mengaku mulai berjualan kue putu sejak remaja, membantu ayahnya yang sudah puluhan tahun berdagang. Setelah ayahnya wafat, ia memilih melanjutkan usaha ini sebagai sumber penghasilan utama untuk menghidupi istri dan dua anaknya.
“Kalau ikut kerja di tempat lain, kadang nggak tentu. Tapi dengan jualan putu, walaupun sederhana, bisa untuk makan keluarga tiap hari,” ujarnya.
Tantangan Pedagang Tradisional
Meski kue putu punya banyak penggemar, Reza mengaku tantangannya tidak ringan. Saat musim hujan, dagangan sering tidak habis. Selain itu, persaingan dengan makanan modern juga membuat penjualan tidak selalu stabil.
“Tapi alhamdulillah, masih ada orang yang suka. Banyak wisatawan yang penasaran coba putu karena suaranya unik saat dikukus,” katanya.
Harapan untuk Anak-Anak
Reza berharap usahanya bisa terus berjalan, namun ia tidak ingin anak-anaknya harus bernasib sama. Ia bercita-cita menyekolahkan anaknya setinggi mungkin agar punya masa depan yang lebih baik.
“Saya ingin mereka belajar yang rajin, biar nggak harus dorong gerobak seperti bapaknya. Biar mereka punya pilihan hidup yang lebih luas,” tuturnya lirih.
Warisan Rasa dan Budaya
Kue putu bukan sekadar makanan manis dengan taburan kelapa parut. Di baliknya, ada kisah perjuangan, warisan budaya, dan harapan yang terus dijaga oleh pedagang-pedagang sederhana seperti Reza.
Bagi sebagian orang, bunyi khas putu adalah nostalgia masa kecil. Bagi Reza, itu adalah nyawa kehidupan yang setiap hari ia jaga demi keluarganya.
“Selama masih ada yang mau beli, saya akan terus jualan. Putu ini bukan cuma makanan, tapi cerita hidup saya,” katanya menutup percakapan.
