Gaza, HarianJabar.com – Ribuan warga Palestina kembali melakukan eksodus besar-besaran menuju wilayah selatan Gaza pada Kamis (18/9/2025). Perpindahan massal ini terjadi setelah meningkatnya serangan udara Israel di wilayah utara dan tengah Gaza yang memaksa warga meninggalkan rumah mereka demi mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Menurut laporan kantor berita internasional, jalan-jalan utama Gaza dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki yang membawa barang seadanya. Sebagian besar adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Mereka berjalan kaki berjam-jam menuju Khan Younis dan Rafah, meski situasi di wilayah selatan juga tak sepenuhnya aman.

Krisis Kemanusiaan Memburuk
PBB menyebut gelombang eksodus terbaru ini memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza. Fasilitas penampungan di selatan sudah penuh sesak, sementara pasokan pangan, obat-obatan, dan air bersih semakin menipis.
“Warga sipil Gaza tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rumah mereka. Ini adalah situasi darurat kemanusiaan yang sangat serius,” ujar juru bicara UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina).
Israel Perketat Serangan
Militer Israel mengklaim serangan intensif di Gaza utara ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur Hamas. Namun, kelompok HAM internasional menyoroti banyaknya korban sipil akibat serangan tanpa pandang bulu.
“Pernyataan Israel bahwa warga harus mengungsi ke selatan tidak berarti mereka aman, karena serangan juga terjadi di wilayah itu,” kata Amnesty International dalam keterangan resminya.
Suara Warga yang Mengungsi
Salah satu pengungsi, Mariam (34), mengaku meninggalkan rumahnya di Gaza City hanya dengan membawa pakaian dan dokumen penting.
“Kami sudah kehilangan rumah. Sekarang kami hanya berharap bisa bertahan hidup di Rafah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi banyak keluarga, eksodus ini bukan yang pertama. Beberapa di antaranya sudah berpindah hingga tiga kali sejak perang kembali meletus setahun lalu.
Tuntutan Gencatan Senjata
Masyarakat internasional kembali mendesak gencatan senjata segera dilakukan. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan antara Israel dan Hamas. Situasi di lapangan diprediksi akan semakin sulit jika tidak ada intervensi diplomatik yang kuat.
