Jakarta, HarianJabar.com – Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah merencanakan revitalisasi pabrik pupuk tua di berbagai daerah. Total anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp 54 triliun, digunakan untuk peremajaan fasilitas, modernisasi mesin, dan peningkatan kapasitas produksi.
Revitalisasi ini dianggap krusial untuk ketahanan pangan nasional, mengingat pupuk menjadi salah satu kebutuhan utama sektor pertanian.
Peningkatan Kapasitas dan Teknologi
Direktur Utama salah satu BUMN pupuk menyebutkan bahwa pabrik tua selama ini hanya mampu berproduksi 50–60% dari kapasitas maksimal. Dengan revitalisasi, produksi diproyeksikan meningkat hingga 90–100%, sekaligus menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi energi.
Selain itu, modernisasi mesin juga bertujuan untuk memenuhi standar lingkungan terbaru, mengurangi limbah industri, dan menekan emisi karbon.

Dampak bagi Petani dan Ekonomi
Peningkatan kapasitas produksi pupuk diprediksi akan memberi stabilitas harga pupuk di pasar domestik, sekaligus mendukung petani dalam meningkatkan hasil panen. Pemerintah menilai proyek ini sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat kemandirian industri pupuk.
Menteri Pertanian menyambut baik rencana ini:
“Revitalisasi pabrik pupuk tua menjadi langkah penting agar pasokan pupuk tetap tersedia, harga stabil, dan petani mendapatkan manfaat maksimal.”
Sumber Anggaran dan Jadwal Proyek
Anggaran Rp 54 triliun ini akan bersumber dari kombinasi modal BUMN, pinjaman pemerintah, dan skema pembiayaan investasi. Proyek ditargetkan rampung dalam 5–7 tahun ke depan, dengan tahap awal difokuskan pada pabrik-pabrik paling tua dan rawan gangguan produksi.
Pemerintah menegaskan seluruh proses revitalisasi akan diawasi secara transparan untuk menjamin efisiensi dan hasil maksimal bagi sektor pertanian.
