Bandung, 2025 – Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Bandung mencoba melakukan aksi bunuh diri dengan memanjat tower setinggi sekitar 25 meter. Peristiwa ini memicu keprihatinan dari pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar.
Menurut keterangan awal, tindakan siswa tersebut diduga dipicu oleh tekanan emosional setelah mendapat teguran dari guru. Namun, pihak sekolah dan psikolog menekankan perlunya pendalaman lebih lanjut untuk memahami kondisi yang sebenarnya dialami anak tersebut.
Kepala sekolah bersama keluarga dan tim penyelamat segera mengambil tindakan cepat. Siswa berhasil dievakuasi dengan aman tanpa mengalami cedera serius. “Keselamatan dan kesehatan mental siswa menjadi prioritas utama kami,” kata kepala sekolah.
Seorang psikolog anak menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara guru, orang tua, dan anak, terutama untuk mengenali tanda-tanda tekanan emosional atau masalah psikologis pada anak sejak dini. “Lingkungan belajar yang suportif dan penuh empati sangat diperlukan agar anak-anak merasa aman dan dihargai,” ujar psikolog tersebut.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak terkait untuk meningkatkan perhatian terhadap kesehatan mental anak dan menciptakan suasana belajar yang inklusif serta penuh pengertian. Sekolah juga berkomitmen mengevaluasi pendekatan pengajaran dan membina hubungan positif dengan siswa agar kejadian serupa tidak terulang.
Orang tua dan guru diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera memberikan dukungan jika diperlukan. Kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam mencegah risiko gangguan kesehatan mental pada anak-anak di masa depan.
