Jakarta, HarianJabar.com 13 Agustus 2025 — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa asupan protein hewani merupakan salah satu faktor krusial dalam upaya mencegah stunting pada anak. Hal ini disampaikan dalam seminar nasional yang digelar secara daring oleh IDAI, yang menyoroti tantangan gizi anak di Indonesia pascapandemi.
Stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi masalah serius. Berdasarkan data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2025, prevalensi stunting nasional masih berada di angka 22,4%, meski menunjukkan tren penurunan.

“Protein hewani mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan otot, tulang, dan perkembangan otak. Ini tidak bisa tergantikan oleh sumber nabati saja,” jelas dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Umum IDAI.
Sumber Protein Hewani yang Disarankan
IDAI menyebutkan beberapa sumber protein hewani yang mudah dijangkau dan bisa dimasukkan dalam makanan anak setiap hari, antara lain:
- Telur
- Daging ayam dan sapi
- Ikan laut dan air tawar
- Hati ayam
- Susu dan produk olahan susu (keju, yogurt)
Pentingnya protein hewani juga telah ditekankan dalam Panduan Gizi Seimbang oleh Kementerian Kesehatan. Protein ini membantu mempercepat pertumbuhan sel, memperkuat sistem kekebalan, dan mendukung fungsi organ vital anak.
Bukan Sekadar Isi Piring, Tapi Perubahan Pola Asuh
IDAI mengingatkan bahwa pencegahan stunting bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi juga menyangkut pola pengasuhan, kebersihan lingkungan, dan pelayanan kesehatan dasar.
“Banyak anak yang gizi makanannya cukup, tapi tetap berisiko stunting karena sering diare atau cacingan akibat sanitasi buruk,” tambah dr. Piprim.
Keterlibatan keluarga, terutama ibu, menjadi kunci dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak anak mulai MPASI (makanan pendamping ASI).
Peran Pemerintah dan Masyarakat
IDAI mendukung program pemerintah seperti Bantuan Makanan Tambahan, intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan, dan edukasi gizi di tingkat Posyandu dan sekolah. Namun, mereka juga mendorong agar:
- Makanan tambahan berbasis protein hewani lebih diperluas
- Penyuluhan gizi ditingkatkan hingga pelosok desa
- Akses terhadap pangan sehat dipermudah bagi keluarga berpenghasilan rendah
