JAKARTA, 29 Juni 2025 – Banyak orang menganggap bau badan sebagai sesuatu yang diturunkan dari orang tua. Namun, menurut dr. Tirta, dokter sekaligus edukator kesehatan, bau badan bukanlah warisan genetik secara langsung, melainkan efek dari interaksi antara keringat dan bakteri.
Pernyataan ini disampaikan dr. Tirta dalam sebuah podcast edukatif yang membahas kesehatan kulit dan metabolisme tubuh. Ia membantah bahwa gen menjadi penyebab utama aroma tubuh seseorang.
Apa Kata dr. Tirta?
“Genetik mungkin memengaruhi jenis keringat atau hormon, tapi yang bikin bau badan adalah bakteri yang mengurai keringat itu,” ujar dr. Tirta.
Dengan kata lain, seseorang bisa memiliki kecenderungan genetik tertentu, tetapi bau badan muncul akibat kebersihan tubuh dan aktivitas bakteri, bukan karena faktor keturunan semata.
Bau Badan Bisa Jadi Sinyal Penyakit
Lebih lanjut, dr. Tirta mengungkap bahwa bau badan yang tidak biasa bisa menjadi indikator gangguan kesehatan, seperti:
- Diabetes → aroma manis mirip aseton
- Kolesterol tinggi → bau tengik atau amis
- Penyakit ginjal atau hati → bau khas yang tidak hilang meski sudah mandi
“Kalau sudah mandi, pakai deodoran, tapi tetap bau — segera periksa ke dokter. Bisa jadi itu pertanda ada yang tidak beres,” tambahnya.
Solusi Medis dan Praktis
Agar bau badan tidak mengganggu, dr. Tirta menyarankan beberapa langkah sederhana:
- Mandi rutin minimal 2x sehari menggunakan sabun antibakteri
- Gunakan deodoran atau antiperspiran, bukan sekadar parfum
- Jaga pola makan dan hidrasi tubuh
- Kenali tanda-tanda metabolik, seperti bau tidak wajar meski tubuh bersih
Parfum hanya menutupi bau sementara, bukan menyelesaikan akar masalahnya.
Kesimpulan
Mitos bahwa bau badan diturunkan dari orang tua tidak sepenuhnya benar. Genetik bisa berperan kecil, tetapi penyebab utama tetap gaya hidup, kebersihan, dan kesehatan metabolik.
Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat lebih bijak dalam menangani bau badan tanpa stigma.
